Keutamaan Membaca Al-Quran (Part 2)

QuranPerlu dicatat, pemahaman para ahli tafsir terhadap ayat-ayat al-Quran berbeda-beda. Contohnya, sejumlah ahli tafsir mengatakan bahwa mudhof (disandarkan) dalam sebagian kalimat harus dibuang. Umpama dalam peristiwa yang berkenaan dengan saudara-saudara Nabi Yusuf. Ketika mereka mengajak Nabi Yusuf pergi namun tidak membawanya pulang kembali, ayahnya, nabi Ya’qub mempertanyakannya: “Apa yang kalian perbuat terhadap Yusuf.” Mereka pun menjawab: “…Dan tanyalah kepada (penduduk) negeri.”(Yusuf: 82) Sebahagian mufassir berpendapat bahwa maksud darinya adalah “Tanyalah kepada penduduk.” Alasan mereka, mudhofnya telah dibuang.

Sementara tafsir lain menyebutkan “Dan tanyalah (penduduk) negeri.” Maksudnya, tanyalah kepada negeri itu kalau memang ia (negeri tersebut, ―peny.) bisa berbicara dengan lisan dan Anda sendiri mengerti ucapannya. Dan pintu-pintu dan dinding-dinding negeri tentu akan menjawab pertanyaan anda. Tetapi pada kenyataannya, Anda tidak bisa bertanya kepada mereka. Dalam hal ini, keberadaan mudhof tidak di hilangkan. Bukankah pintu-pintu dan dinding-dinding bisa merasakan sesuatu? Bukankah ia akan bersaksi bagi kebaikan kita jika kita termasuk orang-orang yang baik, dan bersaksi jika kita termasuk orang-orang yang zalim? Bukankah bumi akan bersaksi bagi penghuninya?

Di sini jelas bahwa segala sesuatu akan memahami sesuatu. Bukankah Masjid akan memberikan syafaat dan mengeluh terhadap yang orang shalat di dalamnya? Terutama berkenaan dengan Hajar Aswad. Sebagian orang bersikeras dengan keraguannya tentang mengapa kita menerima hajar aswad atau menciumnya? Dalam pandangan orang tersebut, ia tak lebih dari sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan bahaya dan tidak memberikan syafaat, tak ubahnya batu-batu yang lain. Dengan yakin, orang tersebut mengatakan bahwa semua itu merupakan perbuatan bid’ah. Padahal para imam tidak menentang perbuatan yang dikatakan bid’ah tersebut (mencium Hajar Aswad, ―peny.). Dengan demikian, orang yang mengatakan bid’ah itu disebut sebagai pendusta.

Pada hari kiamat kelak, Hajar Aswad akan bersaksi dan mengeluh.

Apabila ia memang tidak mendatangkan bahaya dan tidak memberikan manfaat, lantas mengapa ia mesti bersaksi? Ia merupakan kekuatan Allah Swt di muka bumi. Dengan kata lain, ia merupakan tajalla (kekuatan) Allah Swt, bukan tajafi-Nya.[i]

Mengingat itu semua, para ulama irfan memiliki perasaan malu untuk berbuat dosa. Mereka berkata: “Segala sesuatu yang ada di jagat alam memiliki mata yang melihat apa yang kita lakukan ―kita dilihat― maka bagaimana kita bisa melakukan maksiat?” Inilah pendapat mereka tentang al-Quran. Ayat-ayat Al-Quran merupakan khazanah Ilahi yang tidak pernah kering hanya dengan satu tafsiran. Tatkala makna dari salah satu ayat al-Quran dipaparkan, pada saat yang sama, salah satu pintu khazanah Ilahi telah terbuka. Namun, bagaimanapun kalian berusaha mengurasnya, khazanah tersebut tak akan pernah kering.

Jika seseorang telah membaca al-Quran dengan baik, dan mencapai makna batinnya, maka rumah tinggalnya akan benderang laksana bintang- bintang. Rumah yang di dalamnya acapkali dibacakan al-Quran adalah rumah yang diselimuti bintang yang bercahaya benderang.[ii] Malaikat akan melihatnya sebagaimana penduduk bumi melihat bintang-bintang yang bercahaya. Malaikat Izrail akan mengunjungi rumah tersebut sebanyak lima kali dalam sehari, yakni dalam waktu-waktu pelaksanaan shalat[iii], demi mengetahui apa yang sesungguhnya dikerjakan sang penghuninya pada waktu-waktu tersebut.

Nabi saww bersabda: “Terangilah rumah kalian dengan bacaan al-Quran dan janganlah kalian jadikan rumah seperti kuburan, sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani yang sembahyang di Sinagoge dan Gereja dan melakukan pertukaran serta mengabaikan rumah-rumah mereka.”[iv]

Keberadaan rumah dan kuburan tentunya amat berbeda. Namun, rumah yang dihuni sekelompok orang yang hidup bersama, yang tidak memiliki pengaruh keilmuan serta tidak berkhidmat untuk agama Islam dan kaum muslimin, pada hakikatnya adalah kuburan, dan penghuninya terdiri dari orang-orang yang telah mati.

Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Jadikanlah rumah kalian sebagai tempat yang menerangi kehidupan masyarakat. Janganlah kalian seperti orang Yahudi dan Nasrani yang tidak menyembah Allah di dalam rumah-rumah mereka sendiri, kecuali di Sinagoge dan Gereja pada waktu-waktu tertentu. Ibadah memang harus dilakukan di masjid, namun ibadah yang bersifat khusus dapat dilaksanakan di dalam rumah.

Para imam berkata: “Jagalah tempat-tempat agama, masjid-masjid,mendapatkan pertolongan Allah.”

Imam Ali as berkata: “Orang yang keluar dari kelompok masyarakat akan menjadi santapan setan, sebagaimana kambing yang keluar dari kelompoknya akan menjadi santapan serigala.”[v] Begitu pula manusia yang keluar dari masyarakat dan tidak patuh terhadap tanggungjawab, shalat Jumat, dan shalat berjamaah, akan menjadi santapan setan. Orang yang meninggalkan kehidupan masyarakat dan hidup menyendiri tak ubahnya seekor kambing yang meninggalkan kelompoknya.

Seorang buta datang kepada Imam Ali as dan berkata: “Kadang- kadang ada seorang yang menuntunku ke masjid dan kadang-kadang tak ada yang menuntunku, maka apa yang harus saya lakukan?” Imam as menjawab: “Ambillah seutas tali dan ikatkanlah tali itu antara masjid dan tempat Anda bekerja atau rumahmu. Jika tidak ada orang yang menuntunmu, maka tali itulah yang akan menuntunmu ke arah masjid.”[vi] Imam mewasiatkan kepada orang buta tersebut untuk memanfaatkan segenap sarana yang dapat menghantarkannya ke masjid.

Mengisolasi diri dari umat Islam dan kaum muslimin merupakan sikap dan tindakan yang sangat berbahaya. Mengikuti shalat berjamaah merupakan sebuah berkah. Orang yang memiliki hubungan dengan tempat ibadah sesungguhnya telah mcmbawa “masjid” ke dalam rumahnya. Bagaimana mungkin seorang Muslim membiarkan dirinya sepanjang siang dan malam tanpa membaca al-Quran di dalam rumahnya? Al-Quran memberikan pengaruh yang sangat kuat kepada orang yang membacanya, sehingga orang tersebut akan mengerjakan perintah-perintah-Nya.

Imam suci berkata: “Terangilah rumah-rumah kalian dengan membaca al-Quran.” Seperti apakah rumah tersebut? Sesuai dengan pernyataan al-Quran, rumah yang sejahtera adalah rumah yang menjadikan hati kalian bercahaya. Terangilah hati kalian dengan ayat-ayat al-Quran dan berusahalah untuk mengosongkan hati kalian dari apapun kecuali Allah Swt. Sebab, setiap nikmat yang diperoleh manusia bersumber dari keberkahan al-Quran. Orang yang membaca al-Quran tidak mungkin bersikap sombong. Dan rumah yang acap dibacakan ayat-ayat al-Quran akan memiliki kebaikan yang berlipat-lipat: “Terangilah rumah kalian dengan membaca al-Quran. Rumah yang banyak dibacakan ayat-ayat al-Quran adalah rumah yang memiliki banyak kebaikan.”[vii]

Kadangkala, seorang anak terlahir dengan menyertakan banyak keberkahan bagi masyarakat. Manusia tidak jua mengerti, gerangan nikmat apakah yang ingin Allah berikan kepadanya. Imam Ali as berargumen dalam Nahjul Balaghah: “Janganlah kalian menjual murah diri kalian…,” yang kemudian dilanjutkan dengan argumentasi logis yang disampaikan berikut ini:

Prolog pertama: Apakah Nabi merupakan orang yang dermawan di sisi Allah atau tidak? Jawabannya: sosok Nabi merupakan ciptaan Allah yang paling baik dan paling mulia. Di sisinya tak ada kemuliaan, kebaikan, atau kedudukan, kecuali yang diberikan Allah kepadanya.

Prolog kedua: Kehidupan Nabi sangatlah sederhana. Nabi tidur dalam keadaan lapar ketika berada di syi’ib Abu Thalib. Jika memperoleh harta dari Khadijah, beliau segera mengeluarkannya untuk Islam, bukan untuk dirinya. Artinya, rasa lapar dirasakan Nabi sclama tiga tahun di syi’ib Abu Thalib.

Sesuai dengan perkataan Imam Ali as bahwa apabila kepemilikan harta merupakan sebuah kesempurnaan, bisa dikatakan bahwa Nabi tidak memiliki kesempunaan yang pantas untuknya dan Allah telah mengabaikannya, dan ini tidaklah benar. Padahal, Allah telah memuliakan Nabi-Nya dan tidak mengabaikannya. Ketahuilah bahwa jika Allah memberikan kekayaan kepada seseorang yang kemudian menjadi lupa kepada Allah Swt, maka Alah telah melupakan dan menghinakan orang tersebut. Sebabnya, ia telah memanfaatkan hartanya bagi sesuatu yang tidak jelas dan tidak berdasarkan pengetahuan agama yang benar.

Allah menyetarakan kedudukan orang-orang yang memiliki ilmu, pengetahuan, hikmah, dan tauhid dengan kedudukan para malaikat. Sedangkan orang-orang yang dikuasai nikmat makanan, minuman, dan sebagainya, disetarakan Allah dengan binatang. Dalam surat al-Imran, Allah Swt berfirman: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan, …malaikat, dan orang-orang yang berilmu.”(al-Imran: 17) Allah Swt menyatakan keesaan-Nya. begitu pula halnya dengan para malaikat dan ulama. Di sini disebutkan bahwa ulama dan orang-orang yang berilmu disejajarkan dengan dan duduk bersama para malaikat.

Adapun ketika Allah berbicara tentang materi, Allah Swt berfirman: “Kami perintahkan matahari untuk bersinar dan hujan untuk turun agar dapat mengairi bumi dan agar tanaman-tanaman kalian tumbuh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”(al-Nazi’at: 33) Dalam ayat ini, dikarenakan Allah berbicara tentang materi. maka keberadaan manusia disejajarkan dengan keberadaan binatang. Pada ayat yang lain, Allah Swt berfirman: “Makanlah dan gembalakan binatang-binatangmu.” Makanlah secukupnya dan berikanlah makanan yang memadai untuk binatang-binatangmu. Jika manusia makan melebihi kebutuhannya. sampai pada batas menjatuhkan kehormatannya, maka umurnya akan habis semata-mata untuk mencari dunia. Keadaan semacam ini jelas merupakan kerugian yang sangat besar. Para pengejar kehidupan duniawi merupakan sekumpulan orang berwatak buruk yang menghabiskan waktunya di meja-meja permainan dan kesenangan. Inikah yang disebut dengan standar kesempurnaan?

Mungkin saja terdapat sejumlah orang yang sepanjang hidupnya tidak memiliki harta. Dengan demikian, harta yang dihabiskan orang-orang kaya dalam permainan judi hanya dalam tempo semalam bukanlah sebuah kebanggaan. Harta yang dihabiskan melebihi kebutuhan Anda untuk menjaga kehonnatan din, hanya akan berdampak buruk bagi Anda.

Ini bukan berarti kita diperintahkan untuk duduk berpangku tangan dan tidak bekerja sama sekali. Allah Swt memerintahkan kita untuk tetap bekerja agar menjadi umat yang mandiri dan tidak bergantung kepada betas kasih orang lain. Namun jangan sampai hati kalian menjadi terikat kepada selain-Nya. Terhadap orang yang hatinya terikat kepada selain-Nya, Allah berfirman: “Di sisi-Ku, kamu dan binatang temakmu adalah sama saja.” Selanjutnya: “Makanlah dan gembalakanlah binatang- binatangmu.”

Setiap individu jelas harus berusaha dan terus memperbesar hasil produksinya demi memenuhi kebutuhan masyarakat Islam. Imam Ali as berkata: “Siapa saja yang menemukan air dan tanah tetapi miskin. Allah akan menjauhinya.”[viii] Jika seseorang atau sekelompok orang memiliki air dan tanah yang cukup, namun tetap saja hidup miskin dan bergantung pada orang lain, maka Allah Swt akan menjauhkan rahmat-Nya. Bukankah ini merupakan himbauan kepada manusia agar mati bekerja dan berusaha? Tak ada hal lebih buruk ketimbang menganggur. Dan doa yang dipanjatkan orang yang menganggur tidak akan diterima oleh-Nya.

Inilah Islam yang menganugerahkan kebebasan bagi umat manusia serta meniupkan ruh kehormatan dan kemuliaan bagi setiap orang. Seorang petani berkata kepada Imam Ali as: “Kebun kami airnya sedikit sekali.” Maka Imam pun segera datang untuk mencari sumber air dan membuat sumur. Imam membawa cangkul dan mulai menggali. Tetapi Imam tidak kunjung mendapatkan sumber air. Keesokan harinya, Imam datang lagi ke tempat tersebut untuk mencari sumber air, dan kembali mencangkul, sampai nafas beliau terdengar begitu panjang lantaran mengalami keletihan. Tatkala memperoleh sumber air, Imam berkata: “Sumur ini adalah shadaqah.”

Apabila kita mengaku sebagai pengikut Ahlul Bait, kita harus menjalani kehidupan yang zuhud di dunia ini. Kita harus produktif dan aktif terlibat dalam kehidupan, sehingga kita tidak lagi memerlukan keberadaan orang-orang asing. Kebun yang paling baik adalah kebun yang airnya mengalir dari dan untuk kebun tersebut. Hadis ini sesungguhnya ingin mengatakan bahwa kedati kita diharuskan bekerja sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain, namunjangan sampai kita menjadi tamak dengan apa yang ada di tangan sendiri.

Rasul saww bersabda: “Rumah yang dibacakan ayat-ayat al-Quran maka kebaikannya akan bertambah banyak, penghuninya akan tenteram, dan akan menerangi penghuni langit sebagaimana bintang-bintang di langit menerangi penghuni bumi.”[ix]

Oleh: Ayatullah Jawadi Amuli

Penerjemah: Jawad Muammar

Sumber: Rahasia-Rahasia Ibadah; Ayatullah Jawadi Amuli


[i] Abu Abdillah berkata: “Umar bin Khatab melewati hajar aswad dan berkata: Demi Allah, wahai hajar, kami sungguh mengetahui bahwa engkau hanyalah batu yang tidak memberikan bahaya dan manfaat, tetapi kami melihat Rasulullah menciummu. Imam Ali kemudian berkata kepadanya: Bagaimana, wahai ibnu Khatab? Demi Allah, pada hari kiamat kelak Allah sungguh akan membangkitkannya dan ia memiliki dua lisan dan dua bibir serta ia bersaksi atas siapa yang mempercayainya. Ia adalah Amrullah di bumi-Nya yang dengannya ciptaan Allah membai’atnya. Umar berkata: Allah tidak akan membiarkan kita tinggal di satu wilayah yang di dalamnya tidak ada Ali bin Abi Thalib.’” Lihat, Ila al-Syara’i, Bab CLXI, hadis ke-8, hal. 246.

[ii] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaan Al-Quran”, topik yang berkenaan dengan keberadaan rumah-rumah yang di dalamnya senantiasa dibacakan al-Quran, hadis ke-3.

[iii] Ad-Dilmy, Irsyad al-Qulub, Bab XIV, hadis ke-2.

[iv] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaan Al-Quran”, hadis ke-1.

[v] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-127.

[vi] Wasail al-Syi’ah, juz 5, hal.377.

[vii] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaan al-Quran”, hadis ke-1.

[viii] Wasail al-Syi’ah, juz 12, hal. 24.

[ix] Bihar al-Anwar, juz 41, hal. 39, dan juz 42, hal. 71; Furu al-Kafi, juz 7, hal. 54; Wasail al-Syi’ah, juz 13; dan al-Waqf, Bab VI, hadis ke-2.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s