URGENSI RAMADHAN DAN AL-QURAN

Ramadhan-Kareem-WallpaperOleh: Ayatullah Jawadi Amuli

Penerjemah: Jawad Muammar

Bulan Ramadhan adalah bulan Allah Swt, satu-satunya bulan yang namanya diabadikan dalam al-Quran. Allah menyebutnya dengan bulan nuzul al-Quran (turunnya al-Quran). Allah Swt berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan  yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran.”(al-Baqarah: 185) Bulan ini menjadi agung bukan dikarenakan puasanya, melainkan karena di dalamnya diturunkan al-Quran. Al-Quran memiliki hukum dan hikmah. Di antaranya adalah hukum puasa.

Ramadhan adalah bulan turunnya al-Quran al-Karim. Pada bulan ini pula manusia menjadi tamu-tamu Allah Swt. Dan Allah Swt telah menyajikan hidangan bagi para tamu-Nya berupa al-Quran al-Karim.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saww bersabda: “Al-Quran ini adalah jamuan dari Allah Swt.”[1] Al-Quran merupakan jamuan Ilahi yang diberikan bagi hamba-hamba-Nya. Tidak semua orang bisa menyantap dan menikmati jamuan tersebut. Tak seorang pun memiliki otoritas membawakan pendapat atas al-Quran atau menganggap pendapatnya berasal darinya. Al-Quran bukanlah jamuan yang diperuntukan bagi setiap orang. Ia merupakan pemberian khusus yang diperuntukan bagi insan yang haus dan lapar akan makrifat al-Quran. Merekalah yang dapat memperoleh makrifat tersebut. Semua pernahaman ini bersumber dari banyak hadis,baik yang ada di kalangan Ahlussunnah maupun Syi’ah.

Allah Swt mengajak kita untuk membaca al-Quran pada bulan yang mulia ini. Para ahli makrifat berkata: “Sesungguhnya walaupun puasa terasa berat dan melelahkan bagi mereka yang melakukannya, namun dengan mendengarkan ayat-ayat al-Quran, beban tersebut alan hilang.” Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.”(al-Baqarah: 183).

Perhitungan awal perjalanan manusia menuju Allah dimulai pada bulan Ramadhan. Musim gugur merupakan awal untuk bercocok tanam, karena penghasilan tahunan dimulai dari musim gugur. Dan bulan Ramadhan merupakan titik awal dihitungnya perjalanan manusia menuju Allah Swt. Dan pada bulan Ramadhan berikutnya, sang salik memulai penghitungan tingkatan yang telah ditempuhnya.

Dalam khutbahnya pada Jumat terakhir bulan Sya’ban, Rasulullah saww bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya jiwa kalian tergadaikan dengan amal kalian, maka bebaskanlah (jiwa kalian) dengan ber-istighfar.”[2]

Wahai manusia, kalian bukanlah orang-orang yang merdeka. Sesungguhnya kalian terpenjara, hanya saja kalian tidak menyadarinya. Dosa-dosa yang kalian perbuatlah yang memenjarakan kalian. Karenanya, demi kebebasan jiwa-jiwa kalian, segera ber-istighfar kepada Allah Swt pada bulan mulia ini. Manusia yang berdosa adalah manusia yang berhutang. Oleh karena itu wajib bagi orang yang berhutang untuk membayarnya. Bukan dengan tanah atau rumah. Namun hutang itu harus dibayar dengan jiwa. Seseorang yang diperbudak oleh dirinya hanya akan melakukan sesuatu berdasarkan kesukaan dan keinginannya. Ia senantiasa membanggakan apa yang dilakukannya. Orang semacam ini telah terpenjara oleh diri, hawa nafsu, dan keinginan-keinginannya sendiri.

Dalam Islam, tidak terdapat keagungan dan kemuliaan yang melebihi kebebasan. Banyak sekali hadis dari para imam suci yang mengajarkan kepada manusia tentang arti kebebasan. Dan yang terpenting dari ajaran tersebut, bukan bebasnya manusia dari musuh-musuh yang datang dari luar. Tetapi bebasnya mereka dari belenggu syahwat dan kecenderungan yang ada dalam dirinya.

Jika ingin mengetahui apakah kita memang orang yang merdeka atau justru seorang tawanan, kita harus melihat kepada amal perbuatan kita. Jika amal perbuatan tersebut didorong oleh keinginan kita, maka kita adalah tawanan dan budak hawa nafsu serta keinginan. Adapun jika amal perbuatan tersebut sesuai dengan keinginan Allah Swt, maka kita adalah orang yang merdeka. Disebut merdeka karena tidak berfikir selain kepada Allah Swt. Imam Ali as berkata: “Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang merdeka meninggalkan sisa makanan untuk keluarganya.”[3]

Adakah orang yang merdeka meninggalkan perhiasan-perhiasan dunia berupa kedudukan, tempat tinggal, dan kekayaan? Semua perhiasan dunia ibarat sisa makanan di sela-sela gigi yang ditinggalkan orang-orang terdahulu untuk kita. Orang yang merdeka mampu menutup mata dari kedudukan dan kekayaan seperti ini. Al-Quran berkata: “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”(al-Mudatstsir: 38) “Tiap-tiap diri manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”(al-Thur: 21) “Adapun orang-orang merdeka sangatlah sedikit, kecuali golongan kanan.”(al-Mudatstsir: 39).

Golongan kanan adalah orang-orang yang selalu hidup bersama keberuntungan dan keberkahan. Mereka tidak berharap apapun kecuali barakah. Mereka tidak melakukan suatu pekerjaan kecuali terdapat keberkahan di dalamnya. Ini merupakan kenikmatan utama yang diinginkan Allah Swt untuk kita lakukan. Bulan mulia ini adalah bulan kebebasan. Karenanya, dalam setiap harinya kita harus memutus rantai belenggu yang tercipta dari perbuatan kita sendiri, sampai akhirnya kita terbebaskan. Cara paling utama untuk terbebas dari rantai belenggu tersebut adalah dengan mengenali asrar (rahasia-rahasia) ibadah.

Dalam setiap bentuk ibadah terdapat nilai lahir dan batin. Kita diimbau untuk mengetahui dan memahami semua rahasia yang ada di baliknya, untuk kemudian mengamalkannya. Shalat, puasa, dan wudu, semuanya merupakan taklif (keharusan) dan bagian dari hukum-hukum Ilahi. Manusia dituntut untuk mengetahui seluruh rahasia dari hukum-hukum tersebut. Tujuannya tak lain untuk membantu mereka dalam meraih kebebasan.[4]

Almarhum asy-Syahid ―semoga Allah meridhainya― meriwayatkan bahwa Rasulullah saww, setelah shalat subuh, duduk di masjid untuk menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan para sahabat. Pada suatu hari, dua orang masuk ke dalam masjid dan bertanya kepada Rasulullah saww. Kemudian Rasul saww memandang ke arah orang yang pertama dan berkata kepadanya: “Jika engkau orang yang pertama masuk masjid maka engkau termasuk orang yang dermawan dan selalu mendahulukan orang lain (itsar). Namun saya akan menjawab pertanyaan saudaramu terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanmu, karena tampaknya dia amat terburu-buru dan memiliki pekerjaan yang sangat penting.” Kemudian Nabi saww berkata kepada keduanya: “Aku yang akan menjelaskan tentang apa yang membuat kalian datang ataukah kalian yang akan mengutarakannya sendiri?“ Mereka berdua berkata: “Katakanlah, wahai Rasulullah.”

Maka Rasulullah berkata: “Yang pertama datang untuk menanyakan masalah tentang haji dan yang kedua menanyakan tentang wudu.”

Kemudian Rasulullah saww menjawab pertanyaan keduanya dan berkata: Adapun arti wudu adalah membasuh muka dan tangan serta mengusap kepala dan kedua kaki yang di dalamnya terdapat rahasia-rahasia. Membasuh muka artinya, wahai Tuhanku, aku membasuh mukaku agar aku bersih dari seluruh dosa yang telah kulakukan dengan wajahku, sehingga aku dapat menyembah-Mu dengan wajah yang bersih, dan bersujud di atas tanah dengan kening yang bersih.

Membasuh kedua tangan artinya, wahai Tuhanku aku membasuh kedua tanganku agar aku bersih dari seluruh dosa yang kulakukan dengan kedua tanganku.

Mengusap kepala artinya, wahai Tuhanku aku mengusap seluruh dosa, pikiran, atau kebingungan yang melintas di kepalaku sehingga kepalaku bersih.

Dan mengusap kedua kaki artinya, wahai Tuhanku aku mengusap seluruh kesalahan yang kulakukan dengan kedua kakiku sehingga keduanya bersih.

Jika seseorang ingin menyebut nama Allah Swt dengan lisannya, maka ia harus membersihkan mulutnya. Tak pantas seseorang menyebut nama Allah Swt dengan mulut yang tidak bersih (tidak suci). Berkumur sebelum menyebut nama Allah adalah penyucian bagi mulut.

Semuanya merupakan asrar (rahasia-rahasia) dalam berwudu. Sesungguhnya, penyebab utama mengapa kita tidak bisa merasakan nikmatnya beribadah dan shalat tak lain dikarenakan kita tidak mengetahui rahasia seluruh ibadah ini. Orang-orang yang mengetahui asrar ibadah tidak akan menggantikan ibadahnya dengan apapun.

Almarhum Ibnu Babawaih meriwayatkan dari Imam al-Ridha as: Beliau menulis kepada salah seorang murid beliau, Muhammad bin Sinan. Beliau berkata: “Sesungguhnya illat (sebab) dalam berwudu yang menjadikan seorang hamba wajib membasuh muka dan kedua tangannya serta mengusap kepala dan kedua kakinya adalah berdirinya seseorang sebagai hamba di hadapan Allah Swt dengan menghadapkan seluruh anggota lahir tubuhnya, serta bertemunya seorang hamba dengan malaikat-malaikat (kiraman al-katibin) yang bertugas mencatat. Maka membasuh muka dimaksudkan untuk sujud dan tunduk, dan membasuh kedua tangan untuk merubah keduanya, dan memilihkan bagi keduanya “takut” dengan meninggalkan kehidupan duniawi untuk beribadah kepada Allah. Dan maksud dari mengusap kepala serta kedua kaki adalah dikarenakan kepala dan kedua kaki akan tampak ketika menghadap Allah Swt. meskipun keduanya tidak mencerminkan ketundukan dan tabattul (meninggalkan kehidupan duniawi hanya untuk beribadah kepada Allah Swt) sebagaimana yang ada pada wajah dan kedua tangan.”[5]

Imam as bersabda: “Sesungguhnya rahasia wudu dan membasuh dan mengusap adalah menghadapnya manusia kepada Tuhannya dengan anggota tubuh yang bersih. Apakah dibenarkan bagi manusia, setelah dirinya melakukan dosa kemudian berdiri di hadapan Allah dengan wajahnya yang penuh dosa? Sesungguhnya rahasia-rahasia Ilahi memiliki hakikat yang disifati oleh al-Quran dengan, “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”(al-Waqi’ah: 79)

Sebagaimana pengetahuan dan hakikat al-Quran yang tidak dapat diperoleh kecuali oleh orang yang suci (bersih), maka demikian pula halnya dengan ibadah. Pengetahuan tentang rahasianya tidak akan dimengerti kecuali oleh orang-orang yang suci. Pada saat itulah ibadah menjadi lezat dan menyenangkan. Kelezatan yang tidak dapat dibandingkan dengan semua kelezatan lain.

Dalam hadis mulia ini terdapat ungkapan tentang pertemuan mereka dengan Allah dan penyambutan para malaikat yang juga mendengar perkataan mereka. Kita selalu melakukan shalat akan tetapi kita tidak merasakan pengaruh apapun darinya. Kita tidak dapat merasakan cahaya shalat kita. Semua itu disebabkan kita tidak mengetahui rahasia ibadah dalam melakukan shalat. Kelezatan shalat terdapat pada pemahaman tentang makna batinnya. Maqam orang yang syahid di jalan Allah yang memiliki pengetahuan tentang rahasia-rahasia ibadah tentunya akan berbeda dengan orang yang syahid sementara ia tidak mengetahui rahasia tersebut.

Tidak setiap orang yang syahid mampu memelihara tatanan alam dengan keseluruhan hukumnya. Terkadang untuk menghadapi musuh diperlukan ribuan syahid. Namun terkadang hanya dengan satu orang syahid saja sudah cukup untuk menghadapi gelombang yang sangat kuat. Kendati setiap syahid memiliki maqam yang mulia, namun bukan berarti semuanya akan menduduki maqam yang sama. Darah dari orang yang mengetahui rahasia ibadah, yang semasa hidupnya bertemu dengan para malaikat Allah Swt, tentu akan lebih berpengaruh dibandingkan dengan selainnya.

Hak inilah yang ditekankan oleh Sayyidah Zainab ketika berbicara kepada Yazid. Beliau as berkata: “Engkau dengan seluruh kekuatan yang kau miliki tak akan mampu menghapus nama kami (Ahlul Bait).” Di sinilah letak pengetahuan dan pancaran rahasia-rahasia ibadah.

Membasuh muka dengan sabun dalam berwudu tidak memiliki manfaat. Yang diminta adalah membasuh dengan menyertakan niat di dalamnya. Sesungguhnya, seseorang yang membasuh mukanya demi menjalankan perintah Ilahi adalah orang yang menginginkan dirinya suci sehingga dapat menghadap Allah Swt. Orang semacam ini telah sampai pada rahasia shalat dan telah berjumpa dengan para malaikat. Ia membasuh kedua tangan untuk mengangkatnya dalam berdoa dan bertawassul. Ia mengusap kedua kakinya untuk menghadap Allah Swt, menghadap kiblat dengan tubuhnya yang suci dari kepala hingga kaki. Melalui inilah ia memperoleh kelezatan dan ketenangan.

Khusus mengenai shalat, Nabi saww bersabda: “Tidak ada shalat yang ketika datang waktunya, kecuali malaikat memanggil di antara kedua tangan manusia tersebut: Wahai manusia! Berdirilah dalam api yang telah kalian nyalakan di belakang punggung kalian, padamkanlah dengan shalat kalian.”[6]

Setiap keburukan dan kemungkaran merupakan beban berat dan besar yang membebani pundak kita, meskipun kita tidak mengetahui dan menyadarinya. Dikarenakan dosa, sebenarnya manusia adalah api yang menyala-nyala, sementara ia tidak menyadarinya.”Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam.”(al-Jin: 15)

Allah Swt mencintai orang-orang yang adil dan membenci orang-orang yang berkhianat dan zalim yang akan menjadi kayu bakar api neraka jahanam. Sesungguhnya banyak sekali perbuatan kita yang merupakan perbuatan setan. Perbuatan itu menjadi api yang kita bawa di atas pundak kita meskipun kita tidak sadar akan hal tersebut. Dengan ini menjadi jelas, manakala seseorang melakukan shalat, maka sesungguhnya ia tengah memadamkan api yang menyala di punggungnya dan menggantikannya dengan cahaya.  Diriwayatkan, Imam Shadiq as bersabda: “Jika Allah Swt ingin memuliakan seseorang, maka Allah memuliakannya pada saat yang paling afdhal (utama). Dan saat yang paling afdhal adalah ketika shalat dan berjihad, jihad terhadap dirinya. Bukankah Allah Swt telah memuliakan dua hamba-Nya, Yahya dan Zakaria, pada saat yang paling afdhal yaitu ketika shalat? Imam Shadiq as bersabda: “Taat kepada Allah Swt adalah berkhidmat kepada-Nya di muka bumi dan tidak ada satu pun khidmat menyamai shalat yang malaikat memanggil Zakaria sementara ia sedang berdiri melakukannya di mihrab.”[7]

Nabi Yahya syahid, dan kita tahu bahwa beliau adalah orang yang zuhud. Jika Allah Swt memberikan taufik kepada seseorang untuk mendapatkan syahadah, ditambah dengan pengetahuan tentang kesyahidan, maka itu merupakan nikmat yang dilimpahkan kepadanya.

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as di akhir ayat ini: “Peganglah teguh apa-apa yang kami berikan kepadamu.”(al-Baqarah: 63) Ketika ditanya tentang apakah kekuatan (yang telah diberikan) itu berupa kekuatan badan atau kekuatan hati, Imam menjawab: “Kekuatan hati dan badan.”[8]

Allah Swt berbicara kepada Yahya: “Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.”(Maryam: 12) Semua itu merupakan kekuatan hati, kekuatan badan, dan pengetahuan. Nabi Yahya mengambil kitab samawi dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menjaga kitab tersebut sampai kesyahidan menjadi akhir dari semua amal beliau. Nabi Yahya mencapai kesyahidan dan berita gembira itu disampaikan Allah Swt ketika beliau sedang shalat. Semua itu merupakan sebagian berkah dari shalat nabi Yahya.

 

Sumber: Rahasia-Rahasia Ibadah; Ayatullah Jawadi Amuli; Penerbit Cahaya, Bogor, Indonesia; Cetakan ke-1; Juni 2001 M.


[1] Kanzu al-Ummal, “al-Khabar “ (2356); Mizan al-Hikmah, juz 8, hal. 74.

[2] Syaikh al-Baha’i, al-Arbain: al-Khuthah as-Sa’baniyah, hadis ke-9.

[3] Nahj al-Balaghah, Bab “al-Hikmah”, hal. 456, isinya. “Diri kalian tidaklah bernilai kecuali dengan surga maka janganlah kalian jual kecuali dengan surga.”

[4] Syaikh al-Baha’i, op. cit.

[5] Man la-Yahdhuru al-Faqih, juz 1, Bab XII, hadis ke-2.

[6] Man la-Yahdhuru al-Faqih, juz 1, Bab “Keutamaan Shalat”, hadis ke-3.

[7] Man la-Yahdhuru al-Faqih, juz 1, Bab “Keutamaan Shalat”, hadis ke-2.

[8] Mabasin al-Barqi, al-Mizan, juz 1, hal. 205.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s