Sekilas Tentang Dunia Satanisme (Wawancara Dengan Dr. Muhammad Jawad Adabi) Part 1

SatanismeKecenderungan manusia pada irfan, sufi atau spiritualitas di era modern adalah fakta yang tidak mungkin untuk ditutup-tutupi. Manusia zaman sekarang juga seperti leluhur mereka, sama-sama mencari kehilangan mereka di langit. Spiritualitas, dalam kapasitasnya sebagai tuntutan manusia yang fitriah (inheren), senantiasa mampu untuk memberi kepuasan kepadanya. Namun, di masa kini ada juga sebagian orang yang ingin berlindung pada peri yang terusir dari singgasana Tuhan dan meyakininya sebagai kekuatan tanpa batas, yaitu setan. Kenyataan ini mengundang keprihatinan dari kaum beragama.
Sejak Adam diciptakan sampai sekarang, setan adalah musuh bebuyutan manusia, Al-Qur’an berulang kali menegaskan pentingnya manusia mengenal setan dan mengetahui bagaimana cara yang ampuh untuk menghadapinya. Di dalam Al-Qur’an diterangkan bahwa setan termasuk golongan jin (QS. 18: 50), oleh karena itu dia juga berjenis api tak berasap sebagaimana mereka (QS. 15: 27; 55: 15), dia durhaka pada Tuhan (QS. 19: 44) dan kafir kepada-Nya (QS. 17: 27), hal itu disebabkan dia membantah firman Tuhan agar dia sujud pada manusia (QS. 2: 34), dia diperintahkan untuk itu karena manusia mengetahui Nama-nama Ilahi sementara dia tidak (QS. 2: 21), dia membantah karena menurutnya dia tercipta dari api dan lebih unggul daripada manusia yang tercipta dari tanah, maka sejak itu dia memusuhi manusia dan menyimpan dengki yang sangat dalam (QS. 7: 22; 12: 5; 17: 53; 35: 6; 43: 62), dia berbuat kurang ajar pada Tuhan (QS. 4: 117) dan ikut campur dalam urusan yang tidak dia ketahui (QS. 22: 3), dia deklarasikan permusuhannya dengan manusia (QS. 43: 62), dia goda mereka sampai tersesat (QS. 7: 175), dia berusaha untuk mengubah ciptaan Tuhan dengan perantara manusia (QS. 4: 119), dia ingin membuat partainya jadi penguasa dunia, tapi Tuhan merugikannya (QS. 58: 19), dia ingin sekali menguasai manusia agar sama-sama tersiksa seperti dirinya (QS. 38: 41; 31: 21), dia senantiasa menghembuskan kesedihan pada diri manusia (QS. 58: 10) dan memalingkan mereka dari keyakinan pada akhirat, sehingga pada akhirnya mereka dibangkitkan bersamanya di hari kiamat (QS. 19: 66 – 68).
Di setiap agama dan cerita-cerita kuno pasti ada yang namanya setan, setan datang untuk menggagalkan misi manusia sebagai khalifah Tuhan, setan ibarat kegelapan mutlak di hadapan cahaya Ilahi yang mutlak. Dulu, seringkali manusia berusaha untuk menjauhkan dirinya dari setan agar selamat dari godaan-godaannya, adapun manusia zaman sekarang sampai ada yang berusaha untuk fana dalam genggaman setan.
Di sini kita akan sama-sama mencari jawaban atas pertanyaan apa tujuan manusia yang menyembah setan? Apa yang dikejar oleh stan? Untuk itu, kami mengundang salah seorang peneliti di bidang ini, yaitu Hujjatul Islam Dr. Muhammad Jawad Adabi yang spesilasi di jurusan perbandingan agama dan telah banyak melakukan penelitian khusus tentang aliran-aliran religius yang baru muncul.
Berikut ini kami akan menyuguhkan hasil wawancara dengan dia mengenai persoalan tersebut:

Spiritualitas adalah sesuatu yang hilang dan sedang dicari-cari oleh manusia abad terakhir, apa sebenarnya yang menyebabkan manusia kembali untuk menggapainya?

Kemana pun kupergi, masih dalam batas teritorial keberadaan – Lalu mana batas baru yang melampaui keberadaan. Manusia zaman sekarang sedang mencari miliknya yang hilang di kerajaan ruh. Kita lihat bahwa semua hasil kehidupan manusia di masa modern ini telah sampai pada puncaknya yang tertinggi. Era modernitas dan era hegemoni hanyalah kuantitas. Sebuah periode dimana manusia telah mengalahkan keterbatasan fasilitas dan karya ilmiah, bahkan periode modern yang menciptakan sebuah kerajalelaan ala Fir’aun sehingga manusia –seperti yang pernah dilukiskan oleh Alkitab- merobek langit dan menentang Tuhan. Satu hal lagi yang diwariskan oleh era modern dan kehidupan masa kini adalah krisis spiritualitas. Manusia zaman sekarang terpental dari langit, tapi bagaimana pun juga dia tidak sanggup berpaling dari tuntutan inheren atau fitrahnya. Dia belum merasa puas, masih banyak titik-titik yang tersembunyi dan belum terjawab oleh modernitas atau posmodernitas, ada ruang-ruang gelap yang tidak mungkin terang dengan perantara teknologi modern. Ini adalah kawasan ruh yang hilang.
Kalau dulu F.W. Nietzsche menyebut Tuhan mati karena aku telah membunuhnya, sekarang bermunculan aliran religius baru yang hendak menuntut balas pembunuhan itu. Kalau abad dua puluh adalah periode pembunuhan Tuhan, abad kedua puluh satu adalah periode balas dendam Tuhan. Tuntutan balas itu tidak muncul di ruangan agama-agama klasik, tapi melampaui batas-batas itu.
Aliran-aliran religius baru mencari spiritualitas yang supra-spiritualitas agama klasik, mereka mencari spiritualitas yang tidak punya doktrin hukum dalam konteksnya yang spesial, tidak lagi mengusung konsep halal dan haram, perintah dan larangan, norma dan anti-norma atau harus dan tidak harus. Dengan bekal interpretasi semacam ini aliran-aliran baru itu meneriakkan slogan balas dendam Tuhan; yakni, Tuhan yang dulu kalian bunuh ingin menuntut balas di abad dua puluh satu.
Memang aliran-aliran religius baru itu berbicara tentang spiritualitas, tapi spiritualitas yang mereka bicarakan adalah campur-aduk kejujuran dan kebohongan, mereka ingin menjalin hubungan antara alam fisik dan metafisik, dan dalam rangka itulah mereka memegang prinsip spiritualitas.

Manusia bergantung pada fitrahnya, otomatis dia tertarik pada spiritualitas modernis. Yang ingin kami tanyakan di sini adalah apa yang diharapkan dari spiritualitas-spiritualitas itu? Apa yang mereka sembah dan aliran apa yang mereka ikuti?

Pembahasan tentang aliran-aliran religius baru untuk pertama kalinya muncul di tengah ilmu-ilmu sosial pasca perang dunia kedua. Aliran-aliran itu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental dan ontologikal manusia; dari mana aku datang, untuk apa kedatanganku ini, kemana aku berjalan, dan di mana tujuan akhirku?
Sebenarnya agama-agama samawi telah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, tapi karena beberapa hal akhirnya agama klasik pada zaman sekarang tidak lebih hanya berperan sebagai background kehidupan manusia modern dan tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kontemporer. Sebaliknya, yang memainkan peran utama di tengah medan adalah aliran-aliran religius yang baru muncul, merekalah yang praktis menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, pertanyaan yang hendak menghadirkan Tuhan dalam hati manusia dan sebisa mungkin membawa hidup manusia modern ke dalam suasana yang tenang dan tentram walau hanya bersifat sementara.
Aliran-aliran religius baru selalu ingin menyodorkan jawaban final terhadap manusia, jawaban-jawaban yang disodorkan tidak senada dengan agama-agama samawi atau klasik, mereka memilih jalan yang berbeda. Faktor-faktor tertentu membuat agama klasik tidak lagi mampu mengupdate diri, dan kalaupun dipaksakan tetap saja belum bisa adaptasi dengan dinamika kehidupan modern, dan manusia zaman sekarang tidak bisa dengan mudah menginterpretasikan agama Yahudi, Kristen, Buda dan lain-lain sesuai dengan masala kekinian. Akhirnya mereka mencoba membuat celah ke dunia spiritual dengan metode yang baru, dan menyuguhkan jawaban-jawaban yang baru pula untuk pertanyaan-pertanyaan itu.
Semakin ke depan kita melihat kehadiran aliran-aliran religius baru ini betambah pengaruh dalam kehidupan manusia, dan itu disebabkan oleh beberapa hal; pertama, aliran-aliran baru itu tidak punya syariat khusus. Kedua, mereka membidik komunitas tertentu, lalu mengaku universal. Ketiga, doktrin dan ajarannya sangat mudah serta dikemas dengan gaya bahasa modern. Keempat, mereka mengklaim diri mampu membuka jalan baru yang tidak pernah bisa dilakukan oleh nabi-nabi dulu.
Ensiklopedia agama atau aliran religius baru yang berapa waktu yang lalu diterbitkan di Inggris menyebutkan 2500 agama atau aliran religius baru yang masing-masing mempunyai pengikut dan komunitas. Ada di antaranya yang sangat aktif, seperti Gereja Setan, Saksi-saksi Yahuwa, Anak-anak Tuhan, dan lain-lain, gerakan dan aktifitas mereka sudah sampai tingkat internasional. Ada juga aliran religius baru yang terhitung sebagai anak aliran, seperti anak agama Buda yang disebarkan di Iran dengan nama Ushu. Sebagian dari aliran-aliran itu hanya bersifat virtual dan kegiatannya masih terbatas pada dunia maya atau internet.

Satanisme adalah satu dari aliran religius yang baru muncul tersebut. Siapa atau apa sebenarnya setan? Apa yang dia inginkan dari manusia? Apa yang diharapkan oleh manusia dari penyembahan pada setan?

Setiap saat kiblat baru datang dengan arca yang baru pula, maka sampaikanlah Tauhid kepada kami agar kami dapat menghancurkan arca-arca itu. Di sepanjang sejarah manusia, setan adalah simbol bisikan dan godaan manusia yang senantiasa merayu dia untuk pergi menuju neraka, degradasi, dekadensi dan kehidupan yang hina.
Setan menentang hukum Tuhan dan melecehkan undang-undang masyarakat, sebagai gantinya dia mengusulkan kehidupan yang penuh dengan kedengkian, hampa dan anti-moral.
Menurut literatur gnostik kita, setan adalah sosok yang mengejawantahkan bisikan-bisikan halus dalam diri manusia. Dan di dalam literatur agama, basis dan kedudukan setan beroposisi melawan Almasih, bahkan lebih dari itu adalah kontra-Tuhan. Adapun di dalam keberadaan, setan memberi makna kepada hal-hal yang spiritual dan moral, tentunya jangan dianggap pemberian makna itu sebagai ajudikasi.
Seandainya tidak ada setan yang menggoda manusia, sehingga dia hidup terus menerus di surga tanpa terjadi penurunan, maka makna kehidupan yang sesungguhnya menjadi sesuatu yang tidak mungkin tergapai olehnya. Kalau saja tidak ada godaan dan bisikan setan, maka baik tidak bisa dibedakan dari buruk.
Menurut keterangan agama-agama klasik, setan mempunyai kedudukan tersendiri di dalam struktur keberadaan, dialah yang berposisi sebagai penggoda manusia. Di dalam perspektif gnostik Islam, dengan adanya pergulatan antara manusia dan setanlah orang-orang monoteis dapat dipisahkan dari non-monoteis. Peran setan adalah membujuk dan menggoda. Kedudukan setan tidak mungkin disingkirkan dari keberadaan dan kehidupan manusia, memang peran dia di sana negatif, tapi posisi dia untuk mencapai monoteisme murni dan kebahagiaan yang abadi tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan perantara keberadaan setan makna keutamaan dan kehinaan dapat dimengerti. Ikhtiar manusia dan kehidupan moral hanya dapat diteliti dengan memperhatikan posisi negatif –tapi nyata- setan.

Apa rahasia di balik penyembahan setan?

Kekuatan yang diingin digapai oleh manusia zaman sekarang dengan cara menyembah setan berbeda sekali dengan kekuatan spiritual, kekuatan satanisme bersifat sementara dan tidak mampu mencapai posisi yang tertinggi di berbagai ranah yang berbeda. Sedangkan kekuatan spiritual senantiasa berada pada posisi yang tertinggi karena relasinya dengan Tuhan alam semesta dan wahyu samawi. Cahaya Tuhan akan tetap menyebar dan menerangi walau pun orang-orang musyrik tidak menghendaki. Para nabi diutus untuk menyebarkan cahaya Tuhan dan kasih sayang-Nya.
Ada banyak faktor dan alasan kenapa orang-orang zaman sekarang menyembah setan dan memandang satanisme sebagai tempat berlindung mereka. Sebagiannya perlu sebuah analisa psikologis, dan sebagiannya lagi membutuhkan analisa agamis atau sosiologis. Orang yang di dalam dirinya mengalami keterombang-ambingan, dan di luar tidak menemukan kenyamanan, adakalanya dia mencari jalan dan pusat perlindungan untuk menutupi kekurangan tersebut. Dalam pada ini, satanisme merupakan sebaik-baik tempat perlindungan mereka. Segala sesuatu diperbolehkan dalam satanisme, aliran hitam ini membebaskan segala bentuk pakaian, makanan dan tindakan, terserah manusia mau berbuat apa saja dan dengan segala cara, tanpa batas dan struktur yang jelas.
Manusia liar yang lari dari keterbatasan dan tanggungjawab tidak akan menemukan tempat yang lebih baik dari satanisme. Karena setan menyeru mereka dari dasar kegelapan dan keburukan pada kebebasan mutlak dan menjanjikan apa saja yang mereka ingingkan tanpa batas. Dengan terompet pengingkarannya, setan berhasil menarik dan mengumpulkan orang-orang yang melarikan diri dari jazirah tauhid, sehingga dengan demikian terbentuklah satanisme atau gereja setan. Terlepas bahwa pada prinsipnya menurut pandangan agama, setan adalah tertolak.
Perspektif sosiologis memandang para pengikut satanisme sebagai orang-orang yang mempunyai klaim-klaim tersendiri dan mengaku diri mereka telah menemukan jalan keselamatan, bahkan mereka ingin menunjukkan jalan itu kepada orang yang lain.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s