Keutamaan Membaca Al-Quran (Part 1)

QuranOrang yang membaca al-Quran akan mampu “melihat“ Allah Swt apabila ia telah mencapai rahasia bacaannya. Imam Ali as berkata: “Allah Swt menampakkan diri-Nya melalui kitab-Nya tanpa mereka mampu melihatnya.”[i] Allah Swt menampakkan diri-Nya melalui kitab-Nya tanpa terlihat. Imam as berkata: “Setiap hakikat terkandung dalam al-Quran, begitu pula kejadian-kejadian yang lampau dan yang akan datang. Al-Quran tidak menjawab ketika Anda bertanya kepadanya dan tidak menjawab ketika Anda mangajaknya berbicara, tetapi aku adalah orang yang berbicara dengan al-Quran, aku mengetahui rahasia-rahasianya dan akan menjelaskannya kepada Anda.”

Imam menjelaskan makna pembacaan al-Quran yang benar melalui ucapannya: “Allah Swt pemilik al-Quran ini telah menampakkan diri-Nya bagi hamba-hamba-Nya melalui kitab-Nya.”[ii] Imam Shadiq as pun meriwayatkan makna yang sama dengan mengatakan: “Allah Swt ber-tajalli untuk hamba-hamba-Nya melalui ucapan-Nya, tetapi mereka tidak melihat-Nya.”

Imam Shadiq as senantiasa mengulang-ulangi sebagian ayat al-Quran: “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”(al-Fatihah: 5) Atau ayat: “… yang menguasai hari pembalasan.”(al-Fatihah: 4) Dan Imam berkata:

Sepertinya aku mendengar Allah berbicara.”

Ungkapan yang paling baik dan indah dalam pemikiran Islam adalah tajalla. Al-Quran dan hadis telah mengajarkan kepada kita makna dari istilah tersebut. Ketika Allah Swt ingin menurunkan hakikat keberadaan dari alam gaib ke alam ini, Allah berfirman: “Tajalla.” Kata tajalla berbeda dengan tajaafa. Diturunkannya al-Quran di bulan mulia ini dikatakan ibarat air hujan yang turun dari langit. Hujan yang turun secara tajaafa berarti hujan yang turun di satu tempat. Ia tidak turun di tempat lain. Ketika sesuatu berada di atas, maka ia tidak berada di bawah. Tatkala turun ke bumi, ia tidak berada di langit.

Tetapi sewaktu Allah berfirman: “Kami turunkan al-Quran di bulan Ramadhan,” apakah itu sama dengan turunnya hujan? Tatkala al-Quran bersama Kami, maka pada saat bersamaan, ia tidak bersama kalian. Dan sewaktu Kami menurunkannya kepada kalian, ia tidak lagi bersama Kami. Apakah turunnya al-Quran seperti itu? Demikian pula arti: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan.”(al- Qadar: 1) Dan apakah makna dari ayat: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran…,”(al-Baqarah: 185), seperti turunnya hujan?

Tidak, tidak demikian halnya. Al-Quran turun di bulan ini secara bertahap, secara berangsur-angsur atau tidak sekaligus, artinya bahwa hakikat yang ada pada Allah ini tetap ada pada Allah. Tetapi turun dalam bentuk kalam agar manusia dapat melafalkan, mendengarkan, menuliskan, dan membacanya. Al-Quran diturunkan secara tajalla dan bukan tajaafa.

Jika seorang mujtahid atau filosof ingin menjelaskan dan mengajarkan kepada orang lain mengenai satu hal yang bersifat logis atau suatu riwayat yang merupakan bagian dari pengetahuan Islam, yang benar-benar dipahaminya, maka itu dapat dikatakan bahwa: “Ia menurunkan untuk orang lain atau secara berangsur-angsur menurunkannya kepada mereka.” Proses penurunannya berlangsung secara berangsur-angsur dalam bentuk buku, tulisan, atau gelombang radio maupun gambar. Pemikiran atau makna ini tidak serta merta menjadikan pikirannya kosong melompong.

Demikian pula halnya dengan seorang mujtahid yang memberikan pelajaran-pelajaran fiqh dalam bentuk yang sederhana, sehingga dapat dipahami para mukalaf. Dalam proses pemberian pelajaran tersebut, keberadaan ruhnya yang tinggi tidak lantas menjadi kosong dari potensi ijtihad. Sebabnya, yang ia turunkan bukanlah potensi ijtihadnya, melainkan hakikat-hakikat yang dipahami manusia, yang diberikan secara berangsur-angsur. Inilah makna dari tanzil. Turunnya al-Quran dan hadis-hadis Ahlul Bait terjadi dalam bentuk seperti ini. Proses penurunannya bersifat tajalla.

Shahifah al-Sajjadiyah milik Imam Sajjad as yang merupakan “Zabur”-nya Ahlul Bait, harus diletakkan di samping al-Quran dan Nahj al-Balaghah.

Imam as-Sajjad as memiliki doa yang bernama Khatam al-Quran, yang umumnya dibaca orang seusai menghatamkan al-Quran. Sebuah doa yang menjelaskan tentang keagungan al-Quran dan pertemuan dengan berbagai berkah dan kebaikan sampai pada kalimat “malaikat kematian ber-tajalla karena ia menghilangkan hijab-hijab alam gaib dan mencampakkannya ke dalam lingkaran mimpi tentang kematian yang menakutkan.”[iii] Malaikat kematian, Izrail, ber-tajalla di hadapan manusia dari balik alam gaib untuk mengambil ruh mereka. Ya Allah, pada hari itu, rahmatilah kami. Turunnya malaikat Izrail adalah tajalla Allah Swt.

Tajalla semacam ini terdapat dalam al-Quran (juga dalam Nahjul Balaghah), khususnya ketika berbicara tentang nabi Musa as: “Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu.”(al-A’raf: 143) Dalam Nahjul Balaghah disebutkan[iv] khusus tentang keagungan al-Quran. Imam Shadiq as juga meriwayatkan tentang keberadaan tempat khusus yang menjadi miliknya. Begitu pula dengan Imam Zainal Abidin yangmeriwayatkan khusus tentang Izrail, yang memiliki makna serta perumpamaan yang paling indah, yang membuat manusia tidak takut terhadap keberadaan alam gaib.

Jika ingin mengetahui apakah kita telah mencapai rahasia membaca al-Quran atau belum, harus diperhatikan apakah kita telah “menziarahi“ Allah melalui al-Quran dengan ruh kita? Apakah kita telah “melihat“ dengan mata hati, “pemilik“ kalimat-kalimat tersebut? Jika kita telah “melihat“-Nya, itu berarti kita telah sampai pada rahasia pembacaan al-Quran. Jika tidak, mungkin kita hanya mencapai tingkat hukum dan adab dalam membaca al-Quran, dan belum mencapai rahasianya.

Banyak sekali bab dalam kitab-kitab Imamiyah yang membahas tentang bacaan dan keagungan al-Quran; Seperti al-Kafi karya Syekh al-Kulaini ―semoga Allah meridhainya. Di dalamnya terdapat bab yang berjudul Keutamaan al-Quran, serta bab lain yang berjudul Keutamaan Membawa al-Quran. Orang yang membawa al-Quran akan dibangkitkan bersama para malaikat. Mereka tidak seperti kalangan Yahudi yang membawa kitab Taurat. Lagi pula, mereka bukan membawa Taurat. Berkenaan dengan orang Yahudi, Allah Swt secara khusus berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.”(al-Jumuah: 5)

Sebagaimana yang dikatakan dalam surat tersebut, kita menyaksikan betapa berbahayanya orang-orang Yahudi. Agar bahaya semacam itu tidak sampai menyebar ke tengah-tengah masyarakat Islam, Allah Swt berfirman dalam ayat: janganlah kalian memperlakukan al-Quran sebagaimana perlakuan orang-orang Yahudi terhadap Taurat. Mereka (orang-orang Yahudi, ―peny.) seolah-olah membawa Taurat, padahal sebenarnya tidak. Kami telah menganugerahkan kitab Taurat, namun mereka enggan mengambilnya (mcngamalkannya, ―peny.).

Orang yang membawa al-Quran memiliki keutamaan dikarenakan ia mengetahui maknanya dan mengerjakan hukum serta adab-adabnya, yang keseluruhannya dapat menghantarkannya pada rahasia al-Quran. Orang yang membawa al-Quran harus memiliki karakteristik sebagaimana yang termaktub dalam ucapan Imam Shadiq as: “Orang yang hafal al-Quran dan mengamalkannya akan dibangkitkan bersama para malaikat.”[v] Orang yang memahami dan mengamalkan al-Quran akan dibangkitkan bersama para malaikat dan orang-orang yang mulia.

Kemuliaan yang disebutkan al-Quran tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pada hari kiamat nanti, aspek batin al-Quran (yang dicapai seseorang yang telah menghafal dan mengamalkannya, ―peny.) akan menjadi jembatan yang menghubungkan barisan orang-orang mukmin, syuhada, dan para shalihin. Pada hari kiamat kelak, tcrdapat banyak sekali barisan yang terdiri dari orang-orang bertakwa, para shalihin, para Syuhada, ulama, dan sebagainya. Orang yang bercahaya akan melewati barisan-barisan tersebut, dan berkata kepada mereka: “Kami memahami ini (al-Quran, ―peny.) dengan sebaik-baiknya, ia bersama kami.”[vi]

Dari Imam Shadiq as, Rasulullah saww bersabda: “Pemegang al-Quran adalah orang-orang yang mengetahui penghuni surga.”[vii] Raut wajah dari orang yang memegang al-Quran akan jelas terlihat oleh seluruh penghuni surga. Orang yang menjumpai kesulitan dalam mempelajari al-Quran, tetapi mati menanggungnya, akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Adapun orang yang menghafal al-Quran dan mempelajari hukum-hukumnya tanpa merasakan keletihan dan kesulitan, hanya akan mendapatkan satu pahala. Karena itu, Imam Shadiq as berkata: “Orang yang mempelajari al-Quran dan menghafalnya dengan kesulitan akan mendapatkan dua pahala.”[viii]

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as: “Seyogianyalah bagi seorang muslim mempelajari al-Quran sebelum ia menemui ajalnya, atau ia mati ketika sedang mempelajari al-Quran.”[ix] Tidak pantas bagi seorang mukmin yang menjumpai kematiannyadalam keadaan tidak memahami al-Quran. Sebabnya, ketika wafat, manusia akan berbicara dalam lisan al-Quran dan pembacaan talkin terhadap mayitnya akan menggunakan bahasa Arab. Aspek bathin dari amal dan upaya mempelajari al-Quran dari seorang Muslim yang wafat, akan muncul dan berbicara dalam bahasa Arab yang merupakan bahasa penghuni surga.

Seseorang boleh jadi bertanya, bagaimana mungkin nanti di dalam surga, seseorang berbicara dalam bahasa Arab, sementara itu bukan bahasa ibunya? Itu disebabkan bahasa penghuni surga akan sesuai dengan akidah yang dianutnya, dan lisan serta bentuk manusia akan nampak selaras dengan keadaan hatinya. Jika tidak, bagaimana mungkin sebagian manusia akan menjelma dalam bentuk binatang sementara sebagian lainnya dalam bentuk manusia? Sebagian manusia akan dibangkitkan dengan wajah yang hitam legam, sementara sebagian lainnya dengan wajah putih bercahaya?

Aspek bathinlah yang akan menyingkap bentuk dan bahasa ini, bukan aspek dhahir (lahiriah)nya. Akidahlah yang akan mengajarkan lisan kita untuk berbicara dalam bahasa Arab pada hari kiamat kelak. Di surga, setiap orang akan berbicara dalam bahasa Arab, di mana nabi Daud akan bertindak sebagai penceramah bagi seluruh penghuni di situ. Amirul Mukminin Ali as dalam kitab Nahjul Balaghah berkata: “Saudaraku, nabi Daud adalah orang yang akan berbicara dalam bentuk ceramah.”[x] Kualitas akidahlah yang akan menentukan seseorang ketika wafat, juga setelahnya. Orang yang meninggalkan dunia fana ini, dengan memeluk akidah Islam dan al-Quran, akan berbicara dalam, sekaligus memahami, bahasa Arab.

Amat disayangkan apabila seseorang menemui ajalnya sementara dirinya tidak mengerti bahasa Arab. Setiap orang (yang tidak mengerti, ―peny.) harus mempelajari bahasa Arab. Dan jihad yang dilakukan orang bodoh (tidak mengetahui) merupakan bagian dari jihad akbar. Sebagaimana orang yang berperang, orang yang berjihad menghadapi kebodohan dan seluruh kejelekan akhlak akan memiliki tiga perkara. Dalam kancah peperangan, resiko yang harus ditanggung, kalau bukan kerugian ―yang tentunya lebih besar dari kekalahan― maka seseorang akan memperoleh kemenangan, atau malah kematian. Tak ada pilihan lain di luar semua itu.

Bila seseorang takluk di bawah keinginan syahwatnya, maka ia akan terpenjara oleh hawa nafsu dan setan. Orang yang berkata: “Aku akan melakukan dan mengatakan apa yang aku sukai,“ pada dasarnya adalah orang yang telah mengalami kekalahan telak di medan perang dari musuh yang bersemayam dalam dirinya sendiri. Kekalahan yang diderita berbentuk kejatuhan dirinya dalam perangkap kekufuran.

Apabila seseorang senantiasa berperang melawan keinginan dirinya, serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh ke dalam perangkap perasaannya yang kerap mengajaknya untuk berbuat dosa, kemudian wafat dalam keadaan seperti ini, maka ia akan menjadi seorang syuhada yang memenangkan pcrtarungan melawan musuh yang ada dalam diri (jiwa)nya. Jika seseorang mengikuti perasaan jiwa atau keinginan akalnya, tentu tak akan ada sesuatu pun dalam dirinya yang bisa menyakiti atau menyiksanya. Orang seperti ini telah memenangkan jihad akbarnya.

Rasul saww mengisyaratkan dengan sabdanya: “Tak seorang pun dari kalian kecuali diikuti oleh setan.” Sahabat-sahabat bertanya: “Apakah Anda juga, ya Rasulullah?” Rasul saww menjawab: “Ya, tetapi Allah menjagaku darinya sehingga aku selamat dari godaan setan.”[xi]

Apabila kita ingin mengetahui apakah diri kita telah keluar sebagai pemenang atau justru menjadi pecundang dalam sebuah peperangan, ditentukan oleh apakah kita telah menyerah kalah terhadap dosa-dosa kita ataukah tidak. Tak ada yang lebih hina dan lebih buruk dari dosa. Karenanya, Imam suci berkata: “Manusia harus memerangi kebodohannya, mempelajari Al-Quran, dan sungguh-sungguh belajar tentang bagaimana menghilangkan kebodohan.” Apabila seseorang menemui ajalnya dalam keadaan belajar, ia akan digolongkan sebagai orang yang mati syahid dalam peperangan.

Banyak riwayat menyebutkan: Jika orang yang sakit kemudian mati di peraduannya, sementara dirinya yakin terhadap Islam, ia akan digolongkan sebagai orang yang mati syahid. Sebab, ia tidak menyerahkan dirinya dihadapan hawa nafsu. Berkenaan dengan itu, Nabi bersabda: “Seyogianya seorang mukmin tidak wafat sampai dirinya telah atau sedang mempelajari al-Quran.”[xii] Dengan demikian, seseorang harus terus menerus memerangi kebodohan sampai dirinya memperoleh kemenangan, atau kalaupun ajal keburu menjemputnya, minimal ia tidak sampai jatuh sebagai tawanan kebodohannya sendiri.

Apabila seseorang mempelajari al-Quran, kemudian melupakannya disebabkan kurangnya perhatian terhadap pelajaran yang dikandangnya, kemungkinan besar ia akan mendapat azab yang sangat menyakitkan. Banyak riwayat yang menyebutkan tentang hal tersebut.

Imam Shadiq as berkata: “Al-Quran merupakan amanat Allah untuk ciptaan-Nya, maka sepantasnyalah bagi seorang muslim untuk melihat amanat yang diberikan kepadanya dan membacanya 50 ayat dalam satu hari.”[xiii] Al-Quran adalah amanat Allah untuk manusia. Karenanya, sudah sepantasnyalah bagi manusia untuk melihat amanat ini siang dan malam, serta membacakan 50 ayat darinya. Imam Shadiq juga mangatakan: “Melihat al-Quran atau kalimat-kalimat Allah merupakan sebuah ibadah.”[xiv] Tidak seperti kitab-kitab lain, tak ada satupun yang bisa menyerupai kitab mulia tersebut. Kedati tidak mengetahui artinya, seseorang yang membacanya akan tetap mendapat pahala membaca. Itu disebabkan al-Quran merupakan kitab Allah. Tak seorangpun yang dapat berbicara seperti kitab ini.

Apabila membandingkan ayat-ayat al-Quran dengan isi Nahjul Balaghah yang terkenal, kita akan mendapatkan bahwasannya ayat-ayat al-Quran memiliki cahaya yang khusus. Kita tak mungkin menyetarakan kalimat-kalimat Imam dengan ayat-ayat Al-Quran. Ceramah-ceramah Nabi yang kita baca akan bercahaya apabila di tengah-tengahnya terselip ayat-ayat al-Quran. Ayat-ayat tersebut berbeda dengan sabda Rasul saww.

Al-Quran adalah tali Ilahi, sebagaimana firman Allah Swt: “…Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah.” (al-Imran: 103) Berpeganglah kamu semua kepada tali Allah yang merupakan kalam dan agama-Nya, dikarenakan ia menghubungkan kalian dengan atap kehidupan yang abadi. Jangan hanya diam di dasar lubang, namun berpeganglah dengan tali ini, dan membumbunglah ke atas, sebab sebagian dari tali yang menjulur ini berada di tangan manusia, sedangkan sebagian lainnya di “tangan“ Allah Swt. Setiap orang yang memegang sebagian tali Allah dan membahas ayat-ayat al-Quran akan berjumpa dengan Allah Swt.

Rahasia membaca al-Quran tercapai tatkala seseorang menduduki maqam di mana dirinya mampu melihat di tangan siapa bagian ujung dari tali yang terjulur dari tangannya. Dalam kondisi demikian, ia telah mencapai rahasia ibadah dan al-Quran. Sebaliknya, orang yang membaca al-Quran namun tidak mengetahui di tangan siapa bagian ujung tali itu digenggam, belum mencapai rahasia al-Quran.

Karena itu, para imam berkata: “Manusia wajib membaca al-Quran minimal 50 ayat dalam satu hari, agar ia tetap berhubungan dengan amanat Allah Swt. Dan untuk menjelaskan bahwa al-Quran adalah tali yang tidak putus, sebagian ada di tangan Allah dan sebahagian lagi ada di tangan manusia, setiap kali manusia melihat makna-makna al-Quran dan tafsimya maka pasti ada hal yang bisa dibahas dan diteliti.”

Imam Sajjad as berkata: “Ayat-ayat al-Quran merupakan khazanah. Ketika setiap khazanah disingkapkan, sepantasnyalah Anda melihat apa yang ada di dalamnya.”[xv] Ayat al-Quran merupakan khazanah Ilahi yang tak akan pernah sirna. Setiap kali usai membaca satu ayat, sepantasnya Anda menjenguk ke dalam khazanah tersebut untuk menyaksikan apa yang ada di dalamnya. Tidak benar kalau dikatakan bahwa isi ayat-ayat tersebut hanya pengulangan semata, “…dikarenakan al-Quran bergerak laksana berputarnya matahari dan bulan.”[xvi] Sebagaimana keduanya menerangi kehidupan manusia pada waktu siang dan malam hari, demikian pula halnya dengan al-Quran. Ia menerangi jalan manusia, yang dipenuhi kesengsaraan serta cobaan-cobaan siang dan malam, menuju kebahagiaan. Orang yang berjalan di bawah terpaan cahayanya, tak akan menjumpai kesulitan dalam menjalankan berbagai amanat kehidupan.

Oleh: Ayatullah Jawadi Amuli

Penerjemah: Jawad Muammar

Sumber: Rahasia-Rahasia Ibadah; Ayatullah Jawadi Amuli


[i] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-147.

[ii] Mukadimah tafsir dinisbahkan kepada Muhyidin bin al-Arabi (lihat, juz 2, hal. 4). Lihat juga, Mulla Abdurraziq al-Kasani, Takwilaat, Tafsir surat “Al-Hamd”; juga Syaikh al-Baha’i, di akhir bukunya, Falah al-Sail.

[iii] Al-Sahifah al-Sajjadiyah, dalam doa “Khatam al-Quran”.

[iv] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-147.

[v] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaan al-Quran”, hadis ke-2.

[vi] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaanal-Quran”, hadis ke-1 dan 11.

[vii] Ibid.

[viii] Ibid.

[ix] Ibid.

[x] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-160.

[xi] Musnad Ahmad, juz 1, hal. 275, 375, 385, dan 460, serta hadis serupa dengan redaksi yang berbeda dalam kitab Jami’ al-Saqir, juz 2, hal. 75; Ghazali, Ihya al-Ulum, juz 2, hal. 21.

[xii] Ushul al-Kafi, op. cit.

[xiii] Ibid.

[xiv] Ibid.

[xv] Ibid.

[xvi] Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s