Ibnu al-Haytham

Riwayat Ibnu al-Haytham

Ibnu al-Haytham dilahirkan tahun 354H/965M dan wafatnya. 430 H/1038 M. dengan nama lengkap Ibnu Al-Haytham adalah Abu Ali Al-Hasan bin Al-Haytham Al-Basri, Al-Misri. namun masyarakat  Barat menyebutnya Al-Hazen, Avenalan, Avenetan, atau Al-Hazen Al-Haytham , ia berasal dari Basra, Irak pada masa pemerintahan al-Hakim bin Amirullah dari Bani Fathimiyyah.  Ia adalah ahli fisika dan matematikawan terbaik pada abad XI. Selain itu ia tercatat sebagai ahli fisika muslim pertama.[1] Ia tumbuh dan pernah bekerja sebagai sekretaris pada bagian gubernur. Kemudian berhenti dan terjun ke dunia ilmu dan menjadi seorang pengarang.[2]

Ibn Al-Haytham dibesarkan dalam keluarga yang akrab dengan dunia ilmu pengetahuan. Kecintaan pada ilmu pengetahuan membawanya hijrah ke Mesir untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar. Al-Haytham melakukan penelitian tentang aliran sungai Nil, sebelum kemudian memutuskan membuat sebuah mesin pengatur aliran sungai untuk mencegah banjir.

Ia pernah sezaman dengan para ilmuwan muslim kenamaan lainnya, yaitu Abu al-Wafa’ Buzjani Naisaburi, Abudur- Rahman ash-Shufi ar-Razi, dan Abu Sahl Kuhestani Tabristani. Pernah dikenal sebagai sufi dan memiliki kesetiaan terhadap syariat. Pada masa akhirnya sempat menetap di Maroko.

Sarjana muslim yang cukup disegani di Timur maupun Barat. Dia pernah menyumbang ilmunya sejak abad 11 sampai 20. Ahli sejarah di Harvard University, George Sarton (penulis A history of Science ) menyebut al-Haytham sebagai The Greatest Muslim Physicist and One of The Greatest Student of Optics of All Times (Fisikawan Muslim terbesar dan salah seorang Ilmuwan Optik terbesar Sepanjang Zaman), meskipun dia memberi konstribusi besar dalam bidang matematika dan astronomi, dalam bidang fisikalah ia mencapai prestasi yang mencolok. Dia adalah seorang pengamat eksak, seorang peneliti, juga ahli teori.

K. Ajram (1992) menyebutnya sebagai penulis yang produktif, ia menulis hampir dua ratus buku ilmiah. Namun hanya sedikit dari karya ilmiahnya yang bertahan hingga sekarang, sebagian besar telah hilang .Al-Manazhir salah satu kitabnya yang terselamatkan.

Menurut Natsir Arsyad (1989), melalui karya-karya optiknya terutama masterpiece-nya, Book of optics, Al-Haytham telah mendasari dan mempengaruhi karya-karya optik Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Witello, dan Johannes Kepler. Sebagai contoh , sebuah buku Dioptics (ilmu bias sinar) yang ditulis Kepler yang diterbitkan pertama kali di Frankfurt pada tahun 1604 didasarkan sepenuhnya pada karya Ibn al-Haytham.Will Durrant (1952) menyatakan bahwa tanpa al-Haytham tidak akan ada Roger Bacon dan Kepler. Namun di buku Menembus Batas Waktu dikatakan tokoh-tokohnya hampir sama dengan pendapat Natsir Arsyad yaitu Roger Bacon, Vitello, Peckham, Johannes Keppler, dan Newton.[3]

Karya-karya Ibnu al-Haytham

Ia pernah melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar yang kemudian menghasilkan teori Lensa Pembesar. Teori ini digunakan oleh para Ilmuwan di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Ini pada saat Ibn al-Haiyham yang mendirikan laboraturium optik berhasil menemukan rumus-rumus ilmu optik dan geometri. Para Ilmuwan menyebutnya The Greatest Student Optic of All Times (Ilmuwan Terbesar di Bidang Optik Sepanjang Zaman). Karena ia sudah banyak melakukan penelitian di bidang fisiologi optik. Ia juga menulis kitab fi Al-Manasit (kamus optika). Para penulis Abad pertengahan yang ingin memperdalam pengetahuan ilmu mata sering menggunakan buku ini sebagai pegangan seperti yang dilakukan oleh Roger Bacon dan Johann Keppler. Teori Ibn al-Haytham tentang kaca lensa pembesar baru dapat diwujudkan tiga abad kemudian di Italia.. Beberapa karya Ibn Haytham banyak menolak pemikiran filsafat Yunani dan ulama ahli kalam, atau memperjelas kalimat-kalimat rumit yang terdapat pada karya mereka.

Al-Haytham selain ahli optik ia juga ahli astronomi. Ia menggunakan metode astronomi untuk menentukan garis lintang dan posisi koordinat suatu tempat. Metode itu masih digunakan sampai sekarang. Ia juga mahir menggunakan jamain untuk menentukan waktu.

Al-Haytham pernah berhasil menunjukan berbagai cara dalam membuat teropong dan kamera sederhana (camera obscure).Ibn Al-Haytham juga memulai tradisi metode ilmiah untuk menguji sebuah hipotesis.

Ibn Al-Haitsam yang melihat ilmu optika dengan sudut pandang baru. Dalam sains Modern ,optika dianggap sebagai salah satu ilmu fisika, sedangkan dalam ilmu Islam, sejak al-Farabi mereproduksi pernyataan klasik Proclus tentang subjek kajian optik Yunani, optika selalu diperlakukan sebagai ilmu matematika. Cara pandangannya terhadap posisi optika sebagai suatu disiplin ilmiah terletak pada fakta bahwa Ibn Haytham ini orang pertama yang mentransformasikan ilmu ke dalam bidang studi interdisipliner dan secara eksplisit mengakui hakikat ilmu itu.

Dalam karyanya Al-Manazhir, ia menunjukan kelemahan pandangan mata dengan secara terperinci kekeliruan pandangan mata yang ditimbulkan oleh beberapa faktor, seperti jarak, posisi, transparansi keburaman, lamanya memandang, dan kondisi mata.  Dalam karyanya ini sebagaimana dalam karya fisika modern, kita menemukan banyak sekali figur  matematika yang baginya sangat diperlukan untuk menanggulangi kekeliruan dan kelemahan indrawi.[4]

Menurut Toby Huff, dalam bukunya The Rise of Early Modern Science juga sangat besar pengaruhnya atas perhitungan dan teori astronomi Copernicus. Yang menyangkut dengan teori astronomi yang penting dan telah memberikan gambaran gerakan planet yang lebih akurat daripada bagian Ptolemaeus.[5] Dan model planeter inilah yang secara harfiah dijiplak oleh Nicholai Copernicus tanpa menyebutkan sumbernya yang di Barat telah melahirkan apa yang dikenal sebagai “Copernican Revolution”, bidang astronomi, yang telah mengubah fenomena tata surya dari geosentris menjadi heliosentris.[6]

Menurut Nasr, karya ilmiah optik al-Haytham di Eropa pada abad ke 10 diterjemahkan kedalam bahasa latin dengan Opticae Theasaurus. Dan meninggalkan pengaruh besar pada setiap penelaah subjek tersebut. Salah seorang diantaranya Kepler.

Karya al-Haytham lainnya adalah Maqalah fi Hay’at al-‘Alam. Karya Ilmiah yang mengulas tentang pelik-pelik astronomi itu diterjemahkan ke dalam tiga bahasa latin hingga abad ke 18. Karya al-Haytham yang berjudul Fi al-Maraya al-Muhriqah bi al-Dawa’ir, Maqalah fi Dhaw’al-Qamar (Karya tentang cahaya, warna, gercik langit). Fi al-Maraya al-Muhriqah bi al-Quthu (karya tentang cermin-cermin parabolik), fi Kafiyyat ‘al- Azhal, fi Surat al-Kusuf (karya pertaman tentang penggunaan kamera obskura). Risalah fi al-Makan, fi Istikhraj Mas’alah ‘Adadi yang diterjemahkan oleh E. Wiedeman dalam Bibliotheca Mathematica pada 1909-1914. Karya matematika al-Haytham yang berjudul fi Anna al-Kura Ausa’ al-Asykal al-Mujasama Allati ihathuha Mutaisawiya wa Anna al-Da’ira Ausa’ al-Asykal al-Musaththaha Allati Ihathuha Mutasawiya diterjemahkan dan dibahas oleh H.Dilgan pada 1959. Dalam buku itu al-Haytham mengulas tentang sifat-sifat poligon dan hubungannya dengan lingkaran. Karya al-Haytham lainnya yang cukup terkenal adalah Dzawahir al-Fasaq. Karya gejala-gejala senjakala. Namun, karya asli itu hilang karena dibakar oleh Kardinal Ximenez Cisneros di Spanyol yang membenci ilmu pengetahuan.

Beruntungnya terjemahan dari bahasa Latin masih tersimpan, dan kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris judulnya On Twilight Phenomena. Karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Italia dan Latin oleh Kepler dijadikan suatu pegangan yang dapat di andalkan dalam riset-risetnya. Begitu pula Leonardo da Vinci (1452-1519) telah mengetahui dan menggunakan karya-karya al-Haytham .[7]

Dalam karya yang berjudul Maqalah fi Istikhraj Samt al-Qiblat merupakan pembahasan tentang teorema cotangen. Karyanya Dzawahir al-Fasaq, yang hilang karena dibakar oleh kardinal Cisneros di Spanyol, tetapi beruntung telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, On Twilight Phenomena. Ibn al-Haytham telah menghitung dan menetapkan senjakala astronomis dimulai dan berakhir, ketika ketinggian atmosfer Bumi pada 52.000 kaki atau 16.090. Kemudian dia juga secara cermat menjelaskan pembiasan atmosferik dan tambahan diameter. Matahari dan bulan yang tepat pada saat berada dekat horizon. [8]

Pemikiran Ibnu al-Haytham

Ibnu al-Haytham adalah fisikawan muslim terbesar pertama dalam peradaban islam, penelitiannya tentang optika. Ia juga dikenal sebagai ilmuan yang sangat suka melakukan penelitian. Di laboratoriumnya yang sederhana namun sangat lengkap di Basra, ia melakukan serangkaian penelitian untuk menetapkan sudut pandang dan sudut pantul, pembelokkan cahaya dalam air dan kaca, serta berbagai posisi bayangan di atas cermin datar, cembung dan cekung.  Lewat penelitian-penelitian itu, ia meletakkan dasar-dasar pembuatan lensa kamera. Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang pada saat ini digunakan umat manusia. Teori yang ditemukan al-Haytham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudian disambung-sambung, dimainkan, dan disajikan kepada para penonton. Dalam bukunya yang berjudul al Manazir (kamus optika) terdiri dari 7 jilid, kitab ini kemudian di terjemahkan kedalam bahasa latin oleh Friderich Risner (The Saurus Opticus pada tahun 1572). Buku ini sangat populer di universitas-universitas Eropa.

Buku ini menggabungkan metode ekperimental, induktif, matematis, yang berhasil mendobrak kesalahan teori optika yang dikembangkan oleh Ptolemeus. Dan buku ini juga yang mempengaruhi study optika yang dilakukan oleh Keppler. Ia juga yang menemukan prinsip kelembanian/inersia yang kemudian oleh dunia barat dikaitkan dengan nama Galileo.

Penemuan al-Haytham yang lainnya adalah tentang sifat mata yang sebenarnya. Ia berpendapat, sinar cahaya bergerak mulai dari object dan jalan menuju mata. Benda akan terlihat karena memantulkan sinar ke dalam mata. Retina mata adalah tempat penglihatan bukan yang mengeluarkan cahaya. Teori yang dilahirkannya ini mampuh mematahkan teori penglihatan dari dua ilmuan yunani bernama Euclides dan Ptolemeus, berabad-abad sebelumnya. Mereka berpendapat, benda terlihat karena memancarkan cahaya.

Ibnu al-Haytham dikenal sebagai seorang yang telitih dan berhati-hati. Secara serius ia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Berbagai teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, menentukan gerak rectilinear cahaya, penggunaan lensa, kamera obscura, yang dikajinya secara matematis untuk pertama kalinya, gerhana, pelangi dan masih banyak lagi fenomena optika yang mendasar. Ia mempunyai mesin bubut, untuk membuat lensa dan cermin lengkung untuk eksperimentnya. Ia juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar di dunia.

Dia pula orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya. Beliau juga menulis tidak kurang dari 200 judul buku. Bukunya yang berjudul Kitabul Manazir telah memberi ilham bagi perkembangan ilmu optik di masa-masa kemudian. Al-Haytham di tahbiskan sebagai ilmuan optik terkemuka dalam sejarah, sejajar dengan Ptolemeus dan Witelo yang menjadi printis ilmu optik dunia.

Bradley Steffens, penulis buku Ibnu al-Haytham: First Scientis, mengatakan, di barat al-Haytham dikenal sebagai Alhazen. Ia juga dijuluki sebagai bapak ilmu eksperimental yang telah melahirkan begitu banyak pemahaman di alam semesta. Steffens juga mengatakan, al-Haytham sebagaimana ilmuan muslim lainnya tidak hanya mengumpulkan dan menerjemahkan karya-karya budaya lain, tetapi juga menyerap materi dan mengolahnya dengan kemampuan intelegensia yang dimiliki. Tidak hanya  mengandalkan kemampuan berfikir, mereka juga tidak pernah meninggalkan sisi keimanan dan ketakwaannya kepada Allah swt. Hal ini setidaknya ditunjukan dengan kebiasaan Ibnu al-Haytham yang mempelajari teologi, Al-Quran, hadits, dan hukum secara mendalam. Ibnu al-Haytham juga sangat menyukai ilmu filsafat.

Menjelang akhir hayatnya, Ibnu al-Haytham menjadi pengajar di Suriah dan menuliskan karyanya dalam manuskrip. Menurut dokumentasi Ibnu Abi Usaybi’ah terdapat 182 judul manuskrip. Semuannya ditulis saat Ibnu al-Haytham menetap di Basra dan Kairo Mesir. Yang sangat  menyedihkan dan sayangkan, setelah Ibnu al-Haytham meninggal banyak karyanya yang hilang dan kontribusi keilmuannya diklaim ilmuan Barat.

Sumbangan Ibnu al-Haytham   

a. Teori hukum pembiasan

selama di spanyol Ibnu al-Haytham melakukan percobaan dan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan bidang optik. Penemuannya yang terkenal adalah “hukum pembiasan” yaitu hukum fisik yang menyatakan bahwa sudut pembiasan dalam pancaran cahaya sama dengan sudut masuk menurut pandangan Ibnu al-Haytham. Beliau berpendapat bahwa cahaya merah di kaki langit di waktu pagi (fajar) bermula ketika matahari berada di 19 derajat ufuk timur di bawah kaki langit. Sementara cahaya warna merah di kaki langit di waktu senja (syuruk) akan hilang apabila matahari berada 19 derajat ufuk barat di bawah kaki langit selepas jatuhnya matahari. Hukum ini dikenal dengan nama “hukum pembiasan Snell” kalau dibarat tokonya Willebrord van Roijen Snell dari Belanda. Ia juga menetapkan ketinggian atmosfer bumi pada 52,000 kaki atau 16,090 meter.

b. Teori penglihatan

Dalam teorinya ini Ibnu al-Haytham mengemukakan bahwa sinar cahaya berasal dari objek benda menuju ke retina mata sebagai tempat penglihatan, dan ia juga mengajukan tesis bahwa lensa bekerja seperti retina mata. Karena konsep ini juga al-Haytham mengalahkan teorinya Ptolemeus yang berabad-abad sebelumnya. Ptolemeus berpendapat bahwa benda terlihat karena memancarkan cahaya. Konsep ini menjadi landasan penelitian-penelitian selanjutnya tentang cermin, lensa, refraksi, kamera, fisiologi, dan penyakit mata.

c. Teori cermin cekung dan cembung

Ibnu al-Haytham menyimpulkan bahwa pada cermin parabola semua sinar dikonsentrasikan pada sebuah titik. Dan dari penemuannya ini al-Haytham menyebutkan bahwa cermin parabola merupakn cermin pembakar yang terbaik.        


[2] Dr.Ismail asy-Syarafa, Ensikopedi FIlsafat Islam. hlm 16

[3] Mulyadhi kartanegara, Menembus Batas Waktu ( Panorama Filsafat Islam), hlm 95

[4] Mulyadhi kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan (Pengantar Epistemologi Islam). hlm 53

[5] Ibid. Hlm. 54

[6] Ibid. hlm 96

[7]Husain Herianto, Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. hlm 135

[8] Ibid, hlm 138

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s