IBN ‘ARABI

Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-Arabi Al-Tai Al-Hatimi, lahir pada hari Senin, 17 Ramadhan 560 H / 27 atau 28 Juli 1165 di murcia, Spanyol pada masa berkembangnya Andalus . Seperti orang Andalus lainnya, ia berasal dari orang tua  campuran : nama ayahnya menunjukkan keluarga Arab, yang mungkin hujrah ke Andalusia pada awal penaklikan Arab, sedangklan Ibunya berasal dari keluarga Berber. Selalau ada nada kebanggaan ketika ia berbicara tentang kemuliaan garis keturunannya dan dalam beberapa puisi ia menyangjung kemurnian garis Arab. Ayah Ibn Arabi adalah kelompok tentara pengaawal pribadi Sultan Al-Mohad. Ini adalah kedudukan prestisius dan kuat yang memberinya akses kepada semua orang yang memiliki pengaruh besar, seperti filsuf dan hakim terkenal dari Kordoba, Ibn Rusyd. Meskipun bukan dari kelaurga aristokrat, Ibn Arabi  tampaknya lahir di keluarga beruntung. [1]

Beliau dijuluki  Muhyi Al-Din sang pembangkit agama, dann Syaikh Al-Akbar “ Sang Guru Tertinggi “ . walaupun ia tidak mendirikan tarekat, pengaruhnya atas sufi meluas dengan cepat, melalui murid-murid terdekatnya yang mengulas ajaran- ajaran dengan terminologi  inteleketual maupun filosofis. Ia mampu menggabungkan  berbagai aliran esoterik yang berkembang di Dunia islam, seperti Phytagoreanisme, alkimia, Astrologi, serta beragam cara pandang dalam tasawuf ke dalam suatu sintesis yang luas sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi.

Masa Muda dan pengalaman mistiknya

Pada masa mudanya, Ibn Arabi bekerja sebagai sekretaris bagi gubernur Seville dan menikahi seorang gadis bernama Maryam, yang berasal dari sebuah keluarga berpengaruh. Pada usia relatif muda,mungkin enam belas tahun atau lebih, beliau mengalami pengasingan diri (khalwat). Apa yang menyebabkan beliau tiba-tiba ingin menghadap Tuhan tidak disebutkan dalam tulisan-tulisan Ibn Arabi sendiri, namun intensitasnya yang meluap-luap  tidak diragukan lagi.

Ketika masa muda ini beliau sudah mulai merasakan pengalaman mistis atau pengasingan diri.  Mislanya diceritakan “ ketika aku kembali ke Jalan (ruhani) ini, aku mneyelesaikannya melalui visa-mimpi (mubashira) di bawah bimbingan Isa, Musa dan Muhammad” Futuhat makiyyah IV: 172. Kabar baik yang disampaikan oleh ketiga Nabi tersebut  berfungsi seperti curah hujan di atas tanah yang kering, menghidupkan kembali dan membebaskan dari kesempitan.

Nabi Isa, model zuhud dan tajrid  yang sempurna adalah guru Ibn Arabi yang pertama dan ada ikatan kuat antara keduanya yang berkali-kali tampak di dalam seluruh  tulisannya. Ini bukan suatu kebetulan  dan signifikasinya tidak dapat dilebih-lebihnkan jika kita sungguh-sungguh hendak mengapresiasi karya Ibn Arabi. Nabi Musa mengabarkan kepadanya bahwa dia akan diberi pengetahuan langsung dari Allah (ilmu laduni). Selanjutnya figur ketiga, Nabi Muhammad SAW, perintah terakhir inilah agar seseorang meneladani Nabi, yang merupakan contoh terbaik dari keseimbangan kehidupan spiritual yang sempurna. Studi ucapan Nabi (hadist) yang dimulai sejak 1182 (578) dan tetap dilakukannya sepanjang hayatnya, adalah usaha untuk mnegetahui dan mneiru Nabi Muhammad sendiri mengatakan, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” .

Demikian pula Ibn Arabi mengisyaratkan bahwa karakter dirinya dibentuk oleh kepatuhan penuh kepada Tuhan dalam segala keadaan, tanpa memperdulikan pujian atau kecaman duniawi. Seperti para sufi lainnya, dia dengan kuat  menanamkan kalimat Al-Quran dalam hatinya : “ jika engkau mencintai Allah, ikutilah aku maka Allah akan mencintaimu. ” mengikuti Nabi, sebagai model dari perilaku yang baik dan indah , akan menyebabkan kita dicintai langsung ileh Tuhan. [2]

Selain tiga figure diatas, Ibn Arabi juga menjadikan Nabi Khidir sebagai gurunya. Fakta nabi Khidir  sebagai seorang guru tampaknya telah menanamkan pada diri sang murid (sebagai individu) suatu dimensi transenden, dimensi “terhihstoris”. Ini melebihi penggabungan dirinya ke dalam sufi di Sevilla atau Makkah. Ini adalah jalinan pribaddi, langsung dan serta merta dengan Tuhan.

Ada dua episode di masa mudanya  yang memuat kesaksian tenang hadirnya Khidir  ke dalam alam pikirannya secara tersembunyi.namun dalam paper ini saya hanya menyajikan episode pertamanya saja, yakni  terjadi pada masa mudanya ketika ia tengah belajar di Sevilla, namun ia tidak tahu, hingga belakangan kemudian, siapa yang ia jumpai. Ia baru saja meninggalkan gurunya (Abu Hasan Al-Uryani) yang telah didebatnya dengan sengit ketika mempersoalkan ciri orang yang padanya Nabi berkenaan menampakkan diri. Sang murid bersikeras pada pendapatnya dan kemudian pergi dengan perasaan tidak puas dan jengkel. Di tengah jalan seorang asing menegurnya dengan lembut, “hai Muhammad! Percayailah gurumu!. Dialah orangnya ( yang kepadanya Nabi berkenaan menampakkan diri).” Orang ini berbalik langkanh bermaksud memberitahukan gurunya bahwa ia telah berubah pikiran. Namun ketika melihat dirinya sang syaikh menghentikan langkahnya dengan kata-kata “haruskah Khidir muncul kepadamu terlebih dahulu sebelum engkau mempercayai kata-kata gurumu?” maka tahulah Ibn Arabi sapa yang ia jumpai tadi.[3]

Posisi

Selanjutnya pada usia tiga puluh tahun, untuk pertama kalinya ia meninggalkan Spanyol untuk mengunjungi Tunisia. Tujuh tahun kemudian pada 597H/1200 M, sebuah ilham spiritual memerintahkan dirinya untuk pergi pergi ke Timur. Pada 599H/ 1202 M. Ia melakukan ibadah haji ke Mekkah dan berkenalan dengan seorang Syaikh dari Isfahan yang memeiliki sorang putri. Layaknya pengaruh Beatrice  pada Dante, keindahan dan kesempurnaan spiritual wanita ini menjadi Inspirasi baginya untuk menyusun “ Tarjuman Al-Asywaq”. Di Makkah pula ia berjumpa dengan Majd Al-Din Ishaq, seorang Syaikh dari Malatya yang kelak akan mempunyai seorang putra yang  menjadi murid tebesar Ibn Arabi, yakni Shadr Al-Din AL-Qunawi (606-673 H/1210-1274 M).

Dalam perjalanan menyertai kepulangan Majd Al-Din ke Malatya, Ibn Arabi bermukim sementara waktu di Mosul. Di kota ini, ia ditasbihkan oleh Ibn Al-Jami , seorang yang memperoleh kekuatan spiritual dari Al-Khidir. Selama beberapa tahun, beliau melanglangbuana dari kota ke kota di Turky, Suriah, Mesir, serta kota suci Makkah dan Madinah. Pada 608 H , ia dikirim ke Baghdad oleh Sultan Kay Ka’us I (607-616 H/1210-19n M) dari Konya dalam misi  yuridis ke kholifahan, kemungkinan ditemani oleh Majd Al-Din. Ibn Arabi memiliki hubungan baik dengan sultan ini dan mngeirimnya surat-surat berupa nasihat praktis, dia pun merupakan sahabat dari penguasa Aleppo, Al-Malik Al-Zhahir (1168-1218 M), putra Sultan Saladin ( Shalah Al-Din ) Al-Ayyubi .[4]


[1] Stephen Hirtenstein “ Dari keragaman ke kesatuan wujud : ajaran & kehidupan spiritual Syaikh Al-Akbar Ibn Arabi “ hal 43

[2] Ibid 67-73

[3] Henry Corbin “ imajinatif kreatif sufisme Ibn Arabi ” Yogyakarta : LKIS ,2002. Hal 66-67

[4] Willian Chittik, (editor: Sayyid Hossein Nasr) “ ensiklopedia tematis spiritual islam : manifestasi”  . Bandung: 2003, Mizan .hal.65

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s