Apa Yang Harus Saya Tulis?

Sebenarnya saya memang tertarik untuk menulis sesuatu. Dulu, pada saat saya masih sekolah di SMK, saya sering curat-coret dalam selembar kertas sehingga menghasilkan sebuah tulisan yang terkadang memang tidak begitu menarik bagi orang lain bukan karena yang saya tuliskan itu adalah pelajaran sekolah tetapi terkadang saya menulis sesuka hati saya, tentang apa yang saya rasakan, tentang diri sendiri, keluarga, sahabat, rasa sedih, senang, cemas, kebingungan dan terkadang tentang seseorang. Saya sangat menikmati kegiatan menulis tersebut walau pun saya hanya menulis sebuah pengalaman-pengalaman pribadi saya dan dalam lembaran-lembaran kertas yang kini berserakan di dalam lemari buku saya di rumah, bahkan katakanlah dulu menulis itu sebagai sarana untuk mengungkapkan semua perasaan saya yang tak dapat saya ungkapkan pada siapa pun dan sebagai teman curhat bagi saya.

Namun, setelah saya lulus sekolah, aktifitas saya berubah, saya jarang lagi menuliskan apa yang saya rasakan, saya jarang menulis dan sampai pada saat ini saya jadi malas menulis. Sekarang saya mulai menulis kembali karena saya dapat tugas dari dosen Bahasa Indonesia saya yang bernama Hernowo untuk menulis, dan hal ini cukup merangsang saya untuk kembali seperti saat saya masih sekolah dulu, namun untuk mengawali semua itu terkadang saya merasa sangat kebingungan, sebenarnya apa yang harus saya tuliskan? Masih sulit rasanya untuk mendapatkan ide, walau pun setiap minggu Pak Hernowo memberikan saya sebuah tulisan yang harus saya baca dan saya ceritakan kembali apa saja yang telah saya baca, tapi biasanya saya tidak menceritakan kembali apa yang telah saya baca melainkan saya hanya dapat mengkritik tulisan tersebut bahkan terkadang saya menulis hal-hal yang berada di luar tulisan itu, seperti tulisan saya kali ini yang memang saya rasa tak ada hubungannya dengan apa yang saya baca karena kali ini saya tidak begitu memahami bacaan tersebut, namun pada intinya saya dapat menangkap bahwa tulisan yang anda berikan berisi tentang malasnya seseorang untuk menulis.

Pada halaman kedua yang saya baca saya menemukan kata “menulis dari pikiran sendiri” dan “menuliskan sebebas-bebasnya seluruh pikiran yang ada di benak anda tanpa takut-takut” dan itulah yang saya lakukan sekarang, saya menuliskan semua ini dari apa yang saya pikirkan, yang terlintas dari apa yang ada dalam benak saya sendiri dan menuangknanya dalam tulisan ini dan, selanjutnya terserah anda sendiri mau menilai apa tentang tulisan saya berikut ini tetapi setidaknya saya telah berusaha menuliskan semuanya dan terkadang saya pun masih bingung, sebenarnya “apa yang harus saya tulis?” kali ini karena seperti yang telah anda sebutkan dalam contoh seorang penulis sekali pun sampai bingung bahkan frustasi karena tidak ada lagi yang dapat dia tuliskan. Dan terkadang saya pun merasa demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s