Sir Muhammad Iqbal

iqbalBAB I

Biografi Sir Muhammad Iqbal

A.  Kehidupan Pribadi dan keluarganya

Muhammad Iqbal dilahirkan pada tanggal 24 Dzul Hijjah 1289/ 22 februari 1873 di Sialkot. Ia terletak beberapa mil dari Jammu dan Kashmir, suatu kawasan yang kelak terus menerus menjadi sengketa antara india dan Pakistan[1]. Iqbal terlahir dari pasangan Syaikh Nur Muhammad yang dikenal memiliki kedekatan dengan para sufi dan Imam Bibi, yang juga dikenal sangat religius. Ayah iqbal dengan sebutan “ Sang Filosof tanpa guru” karena selain seorang penjahit , beliau juga memiliki perasaan mistis yang dalam serta rasa keingintahuan yang tinggi. Mereka memiliki lima anak, tiga putri dan dua putra.

Muhammad Iqbal tumbuh dibawah bimbingan orangtuanya yang ta’at. Bahkan kelak ia sering berkata bahwa pandangan dunianya tidaklah dibangun melalui spekulasi filosofis, melainkan diwarisi oleh kedua orang tuannya. Dimasa kanak-kanaknya iqbal dikenal menyukai ayam hutan dan senang memelihara burung merpati. Beliau sangat akrab dengan kawan-kawannya dan mengahabiskan masa kanak-kanaknya di perbatasan Punjab.

Di Kota Lohare iqbal menghabiskan masa dewasanya dan kuliah di perguruan tinggi terkemuka, yaitu Government College.  Sebelum masuk kuliah (1892) iqbal dinikahkan orangtuanya dengan karim Bibi, putri seorang dokter Gujarat yang kaya, Bahadur ‘Atta Muhammad Khan. Dari Bibi, Iqbal dikaruniai tiga orang anak,Mi’raj yang wafat diusia muda, Aftal Iqbal yang mengikuti jejak iqbal belajar filsafat, dan salah satu lagi meninggal saat dilahirkan.

Pada tahun 1909 Iqbal dinikahkan dengan Sardar Begun, seorang wanita muda yang cantik namun rapuh fisiknya. Pernikahan tersebut tidak sempurna, karena berbagai alasan. Pada akhirnya iqbal sempat terpisah beberapa lama dengan istrinya tersebut dan kemudian menikah kembali pada tahun 1913. Sardar begun memberikan cinta, pengabdian dan ketenangan batin pada Iqbal. Nemun ia wafat pada usia muda, yaitu usia 37 tahun. Ia meninggalkan satu putra yang bernama Javid Iqbal dan satu putri Munirah.

Pada tanggal 20 Aprli 1938 disela sakitnya, Iqbal memanggil anaknya Javid dan memberikan pesan terakhirnya. Dan salah seorang hadir pada saat itu adalah teman dekatnya iqbal, yaitu Judhari Muhammad Husain, dan beliau wafat tidak lama setelah kewafatan Iqbal. Adapun pesan iqbal kepada anaknya  yaitu :  “jika engkau ingin bahagia, maka temuilah seseorang yang dianugrahi Allah wawasan yang jernih, apabila tidak, lakukanlah pesan-pesanku ini”[2].

Akhirnya Iqbal wafat pada usia 60 tahun masehi satu  bulan atau 63 tahun hijriah satu bulan, dua puluh Sembilan hari, tepatnya di malam hari.

B.  Pendidikan dan Karir Pekerjaan Iqbal

Sejak kecil iqbal sudah mendapatkan pendidikan dasar agama yang kuat, baik dari orangtuanya ataupun dari guru-gurunya. Dan ia dididik untuk selalu belajar dan menghafal al_quran.  Karena kecerdasan dan prestasinya di sekolah menengah (1893), iqbal mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi, yaitu Scotch Mission College. Perguruan tinggi yang didirikan oleh para misionaris scotlandia dan Belanda. Selain beliau belajar di kampus, beliau juga mendapatkan Privat gurunya Mir Hasan dalam pengetahuan kesustraan Arab, Urdu dan Persia.

Dua tahun kemudian Iqbal melanjutkan pendidikannya di Government College, di kota  lohare. Merupakan salah satu lembaga pendidikan terbaik di benua india. Di kampus ini iqbal menekuni sastra dan filsafat Arab serta Inggris. Dan beliau lulus dengan predikat cum laude. Iqbal melanjutkan magisternya dibidang Filsafat. Perkembangan intelektual iqbal tak lepas dari persahabatan guru murid dengan Sir Thomas Arnold, guru besar filsafat yang mengerti tentang kebudayaan islam dan kesustraan Arab. Dialah yang sering memberi motivasi kepada Iqbal agar meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Eropa.

Iqbal berupaya memperbaiki keadaan sosialnya dengan menjadi pengacara. Namun ujian awal ilmu hukum yang  beliau ikuti pada tahun 1898 mengalami kegagalan. Karir pertamanya, ia ditunjuk sebagai asisten pengajar bahasa Arab d Macleod_Punjab Reader of Arabic, University Oriental College (1889-1990).  Disamping itu beliau juga mengajar mata kuliah sejarah dan ekonomi.

Merasa tidak puas dengan profesi akademisnya dan merasa terkekang sebagai propesor, karena senantiasa diawasi oleh pemerintahan inggris. Ia mengikuti seleksi sebuah posisi bergengsi sebagai Asisten Tambahan (Extra Assistant Commisioner), namun beliau mengalami kegagalan. Kegagalan ini membuat  ketenaran Iqbal sebagai penyair semakin memuncak. Hal ini menjadikan dorongan Iqbal untuk berangkat ke Eropa (1905). Terlebih dahulu Iqbal memperdalam pengetahuan Filsafatnya di Universitas Cambridge, dengan mengambil kuliah bachelor pada jurusan Filsafat.

Kemudian Iqbal meneruskan niatnya pergi ke Jerman. Pertama-tama Iqbal belajar bahasa dan filsafat di Universita Heidelberg. Secara mengejutkan hanya dalam waktu tiga bulan Iqbal menguasai bahasa Jerman. Merasa tidak puas, ia kembali ke Inggris (London) untuk bekal bagi profesinya di india kelak. Pada Tahun 1908 beliau berhasil lulus sebagai pengacara.  Selama beberapa waktu, iqbal sempat pula masuk ke School of Political Science dan menggantikan Sir Thomas Arnold selama kurang lebih tiga bulan.

Pada tahun 1908 iqbal kembali ke tanah airnya (India). Ia menjalankan profesinya sebagai pengacara dan mengajar sebagai asisten di Government College, memberi kuliah filsafat, sastra Arab dan satra Inggris selama kurang lebih satu setengah tahun. Sejak oktober 1908 sampai dengan tahun 1934 atau empat tahun sebelum wafatnya, iqbal setia menjalani praktik pengacaranya sambil terus aktif sebagai pengajar, penulis, penyair sekaligus politisi.

Reputasi kepenyairan iqbal sudah menjadi sorotan sejak usianya 22 tahun. Beliau selalu mendapatkan kesempatan untuk membacakan sajak-sakanya yang berisikan masalah politik, kebudayaan Kashmir dan kesejahteraan bangsa. Debut pertamanya yang sukses adalah pada tahun 1900, dengan lantunan puisi yang berjudul Nala-I-Yatim ( tangisan anak yatim). Puisi ini berhasil menggugah perasaan para hadirin sehingga sebagian menitikan air mata dan sebagian lagi  bermurah hati menyumbangkan dana ke kas Anjuman. Pengakuan public terhadap iqbal terus menerus mengalir. Akhirnya sajak itu sering dimuat di majalah dan surat kabar. Disamping itu iqbal juga menerjemahkan sajak-sajak berbahasa inggris. Bahkan dia bercita-cita untuk mengubah sajak-sajak bergaya penyair inggris terkenal, Milton.

Pada tahun 1904 Iqbal menulis sebuah syair yang dikhususkan untuk gurunya yang bernama Sir Thomas Arnold, sajak indah ini berjudul Nara-I-Firaq (ratapan perpisahan). Karena gurunya tersebut akan kembali ka tanah Airnya. Inggris.

Dipuncak ketenaranya itu iqbal dikenal pula oleh masyarakat hindu di India sebagai seorang muslim yang nasionlais. Iqbal menulis sejumlah syair yang bertemakan persahabatan Hindu-Muslim, seperti Tarana-I-Hindi (Nyanyian dari India), Hindustani Bachon Ka Qowmi Git (Musik Nasional Anak-anak India) dan Naya Shiwala (Kuil Baru)[3].

Meskipun telah tiga tahun di Eropa (1905-1908) iqbal tidak kehilangan produktivitas. Ia masih menulis 24 lirik atau sekitar 8 karya per tahun. Dan melalui syair-syair itulah iqbal manjadi semakin terkenal di Tanah Airnya. Tak ada yang lengkap untuk mengenali Iqbal melainkan dengan melalui puisi-puisinya. Ia menulis dengan berbagai gaya, baik itu ghazal (sonata), mutsnawi, gat’ah, dobyti (untaian) dan ruba’I (sajak empat baris)[4].

C.  Filosof-Filosof yang Mempengaruhi Iqbal

Berbicara tentang Iqbal pasti takan terlepas dari para filosof barat. Karena iqbal adalah filsosof muslim yang dalam pemikirannya banyak terpengaruhi oleh pemikiran barat. Seperti Thomas Aquinas, Bergson, Nietzsche, Hegel, Whitehead, Berkeley dan masih banyak lagi lainnya. Namun pembahasan ini akan lebih kepada dua Filosof yang paling banyak pengaruh pemikirannya kepada Iqbal, yaitu Neitzche dan Bergson.

1.  Friedrich Nietzsche

Masa Nietzsche kurang lebih pada tahun 1844-1900. Konsep filsafatnya adalah kehendak untuk penguasaan berkaitan dengan konsef lebenphi-losophie tentang hidup. Menurutnya hidup bukan sebagai proses biologis melainkan sebagai sesuatu yang mengalir, meretas dan tidak tunduk pada apapun yang mematikan hidup.

Adapun rekonstruksi yang menjadi warisan klasik bagi pondasi peradaban barat ada tiga, yaitu : filsafat, moralitas dan agama. Tiga konsef tersebut menurut Nietzsche bukan membawa kepada kemajuan melainkan kehancuran. Yang pertama, kritik terhadap filsafat : Nietzsche menjungkirbalikan konsep kebenaran yang selalu diagung-agungkan dalam filsafat barat. Setiap pemikiran yang mencari kebenaran sebenarnya hanya menutupi motif sebenarnya yaitu kehendak untuk menguasi khaos menjadi kosmos. Keritikan yang kedua adalah moralitas, menurutnya moralitas adalah tanda kepengecutan manusia dalam menghadapi hidup dibawah kendali rasionalitas atau kehendak tuhan. Menurutnya kebaikan adalah semua yang meninggikan kekuasaan dalam manusia, keburukan adalah semua yang berasal dari kelemahan, sedangkan kebahagiaan adalah perasaan bahwa kekuasaan telah meningkat bahwa suatu perlawanan telah diatasi.

Yang ketiga adalah terhadap agama (sosok kristus), nabi yang dianggap sebagai pewarta kabar gembira, pembebas, nabi cinta kasih dan diintrepretasikan Neitzsche sebagai nabi moralitas budak. Dan menurutnya moralitas budak adalah tumbuh dari rasa takut terhadap kekuatan sang tuan, membencinya dan mencemburuinua.

Selama tinggal beberapa waktu di Eropa Iqbal mengalami perubahan penting, diantaranya tentang nilai moral dan kekuatan. Meskipun Iqbal banyak terpengaruh oleh pemikiran nietzsche namun beliau juga tidak sepenuhnya menerima tiga konsep yang tadi, bahkan beliau juga memberikan keritikan kembali pada Nietzsche. Adapun salah satu pengaruhnya pada Iqbal adalah ketika Iqbal menulis sebuah buku “kekuatan itu lebih Ilahiah dibandingkan kebenaran.” Bahkan  di halaman lain Iqbal menulis tentang suporioritas kekuatan diatas kebenaran. Filsafat adalah logika kebenaran. Keritik keras Iqbal kepada Nietzsche berkaitan dengan keterjebakan Nietzsche terhadap doktrin perulangan abadi (eternal reccurence), padahal ia sendiri menolak kepercayaan bahwa manusia tak dapat dipertandingkan dalam ide evolusi[5].

Iqbal memang terinspirasi dari Nietzsche, terutama dalam semangatnya. Hal ini tampak dari puisi-puisinya tentang Nietzsche bahwa kita dapat meraih semangat yang positif dan harapan dari ketulushatian. Persamaan keduanya memang hanya dapat ditarik melalui bangunan filsafat menusia yang memiliki ideal tentang manusia unggul yang dilakukan melalui realisasi kekuatan kehendak manusia. Kedua-duanya percaya bahwa manusia  adalah sebuah jembatan yang harus dilampaui.

2.  Henry Bergson

Henry Bergson (1859-1941) merupakan tokoh yang bisa dibilang paling berpengaruh terhadap pemikiran Iqbal, khususnya soal intusi dan elan vital. Bergson mengemukakan adanya dua pengenal yaitu analisis dan intuisi. Berfikir secara intuitif adalah berfikir dalam durasi. Durasi sendiri dipahami sebagai waktu yang bergerak dalam berkelanjutan (continous flow) dan bukan waktu yang terspesialisasi oleh rasio menjadi momen-momen atau titik-titik dalam garis. Rasio hanya mampu memahami bagian-bagian statis dan tidak mampu mengangkap pergerakan terus menerus (durasi). Hanya intuisi lah yang mampu menangkap fenomena durasi dan realitas sesungguhnya adalah durasi.

Evolusi menurut Bergson adalah impuls vital dari elan vital yang mendorong semua organisme secara konstan menuju bentuk yang lebih canggih dan rumit. Elan vital adalah elemen pokok bagi semua makhluk hidup dan merupakan daya kreatif yang bergerak berkelanjutan tanpa putus.

 

D. Karya-karya Muhammad Iqbal

1. Asrar-i Khudi (Rahasia Pribadi), (1915)

2. Bang-i Dara (Seruan dari Perjalanan), (1924)

3. The Recunstruction of Relegious Thought in Islam, (1930)

4. Payam-i Masyriq (Pesan dari Timur), (1923)

5. dll.

BAB  II

Pemikiran-Pemikiran filosofis Iqbal

A. Rekonstruksi Metafisika dan Iqbal

Menurut Iqbal manusia dihadapkan pada kenyataan bahwa ia kehilangan control atas hidupnya, dimana ia dideterminasi oleh hukum-hukum birokrasi, mekanisme pasar, hukum besi sejarah dan lain sebagainya. Manusia hidup dalam kondisi menyedihkan karena hidup dalam dunia yang dibuta oleh orang lain.

Iqbal (1873-1938) adalah sosok pemikir yang unik. Ia erbeda dengan kalangan intelektual islam lainnya yang menanggapi pemikiran barat dengan Fundamentalis anti barat penuh dengan emosional. Ditengah pertarungan antara para filosof materalisme dengan mereka yang menentangnya, melahirkan sesosok filosof penyair bernama Muhammad Iqbal. Beliau adalah pemikir yang unik. Ia adalah sosok inklusif yang menanggapi pemikiran barat secara argumentative.

Pertemuan Iqbal dengan pemikiran barat tidak lantas melepaskannya dari islam, bahkan motivasi awal Iqbal mempelajari pemikiran barat tidak lain untuk merekonstruksi pemikiran islam yang semakin terpuruk oleh mistisisme dan konsevatisme.

Dari penjelajahan intelektualnya, Iqbal menyadari bahwa baik matrealisme-mekanisme, mistisisme, maupun konsevatisme islam tidak sejalan dengan sosok manusia sebagai pelaku kreatif. Matrealisme barat telah mendehumanisasi realitas sebagai realitas mati yang semata-mata secara bergerak deterministic. Mistisisme terlalu menekankan imanensi Sang Ilahi sehingga menafikan ego manusia. Dan konsevatisme islam terlalu menekankan tradisi sebagai kemutlakan sehingga membelenggu kretivitas manusia.

Melihat kenyataan itu Iqbal pun sampai pada kesimpulan bahwa metafisika sebagai disiplin harus dihidupkan kembali. Meskipun demikian pemikiran metafisika Iqbal tidak sekedar membebek pemikiran metafisika barat yang bersifat kontemplatif terhadap realitas statis. Iqbal merumuskan sebuah metafisiki gerak yang cukup rasional.

Bagi Iqbal benda-benda bukanlah suatu zat keras yang menempati ruang hampa, tapi hakikatnya ia adalah gerak. Benda-benda yang kasat mata sebenarnya merupakan peristiwa-peristiwa dalam keberlajutan alam yang diruangkan oleh pikiran. Hakikat mutlak menurut iqbal adalah bersifat ruh dan kehidupannya terdiri atas aktivitas gerak.

Nasihat yang terbesr Iqbal menurut Ali Syariati adalah “ia memiliki hati seperti nabi Isa as, pemikiran seperti Socrates, dan kekuatan seorang kaisar, yang semua itu berpadu dalam diri seseorang, dalam satu kesatuan kepribadian manusia, yang berdasarkan atas satu semangat dalam mencapai tujuan pasti[6]”.

B.  Jangka Waktu Asali

Waktu sesungguhnya bukanlah serial yang membedakan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan, tapi ia adalah suatu perubahan beruntun yang dilumatkan oleh pikiran. Kehidupan sebenarnya hanyalah rentetan dari tindakan pmerhatian (persepsional).

Jangka waktu asali adalah sumber mutlak dari kehidupan dan pikiran seseorang, yaitu ketika pikiran, kehendak dan tujuan saling tembus menembus guna membentuk satu kesatuan organis. Kita tidak bisa memahami konsep waktu tersebut  secara benar melainkan tatkala kita sedang melihat ke dalam diri masing-masing.

Menurut iqbal diri itu dibagi menjadi dua, yaitu aspek diri apresiasif dan aspek diri efisien. Aspek pertama berhubungan dengan dunia ruang, yaitu diri praktis dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini waktu nyaris sejajar dengan ruang sehingga dapat diukur dan dapat dibedakan panjang pendeknya. Aspek kedua adalah aspek diri yang merupakan pusat pengalaman ego. Kita tidak dapat mencapainya melainkan dengan konsentrasi yang dalam. Dalam proses hidup dari diri yang lebih dalam ini keadaan kesadaran bersifat saling melebur satu sama lain.

C. Filsafat Ketuhanan Iqbal

Metafisika yang mengkaji tentang tuhan disebut filsafat ketuhanan (teologi naturalis) untuk membedakannya dari teologi adikodrati atau teologi wahyu. Apabila filsafat ketuhanan mengambil Tuhan sebagai titik akhir atau kesimpulan seluruh pengkajian, maka teologi wahyu memandang Tuhan sebagai titik awal pembahasannya. Filsafat ketuhanan berurusan dengan pembuktian kebenaran adanya Tuhan berdasarkan pada penalaran manusia.

Iqbal sepakat dengan Kant bahwa rasio mempunyai keterbatasan dalam mengetahui hakikat Tuhan. Namun keterbatasan rasio tak menjadikan Iqbal Skeptis seperti kant, ia tetap yakin bahwa manusia memperoleh pengetahuan Tuhan secara langsung melalui proses intuisi dalam pengalaman religius. Konsep intuisi Iqbal berbeda dengan konsep intuisi kaum mistikus. Apabila kaum mistikus menekankan kontak langsung dengan Tuhan lewat proses intuisi, Iqbal menolaknya dengan mengatakan bahwa apa yang pertama-tama tersingkap secara kuat lewat intuisi adalah keberadaan ego atau diri kreatif, bebas, dan imortal.

D. Panenteisme Iqbal

Posisi Iqbal lebih tepatnya disebut panentaestik, yaitu gagan yang menolak peleburan dunia dengan sang Ilahi, tetapi juga tidak memisahkan secara rigoris. Dalam pandangan ini wujud Tuhan tidak dipersempit menjadi wujud alam, tapi alam adalah ungkapan empiris yang berbeda dalam segala hal. Artinya, Tuhan imanen sekaligua transenden.

Tuhan adalah dasar sepiritual mutlak dari kehidupan yang bersifat abadi dan mengungkapkan dirinya dalam keragaman dan perubahan. Manusia sebagai ko-kreator pilihan Tuhan berbagi creative genius Tuhan untuk direalisasikan dalam dunia atau sederhananya : manusia diberkahi Tuhan kebebasan untuk dapat berpartisipasi aktip dalam proses kreatif penciptaan.

Tuhan mencipta secara tidak terbatas _kreatif terus menerus dimana posisi manusia bukanlah boneka pasif bagi kehendak Tuhan melainkan ko_kreator yang aktif berpartisipasi dalam penciptaan kreatif Tuhan.

E.  Tingkat-Tingkat Pengetahuan

Menurut Iqbal tahap awal pengetahuan adalah pengetahuan konseptual. Melalui tanggapan indra manusia membentuk konsep-konsep tentang benda sehingga ia dapat menguasainya. Relasi manusia dengan alam melalui tanggapan indrawi adalah cara tak langsung dalam mengadakan relasi dengan kebenaran. Dengan kata lain pengetahuan mesti dimulai dari yang kongkret. Kesanggupan akal untuk menguasi yang kongkret adalah kendaraan yang akan membawa akal untuk melampaui yang konkrit itu.

Nilai pengalaman indrawi ataupun pengalaman mistis adalah sama nyata dan konkretnya.  Meski tak dapat diikuti kembali jejaknya oleh cerapan indra, pengalaman mistis tidak dapat diabaikan untuk tujuan pengetahuan karena memiliki nilai kebenaran yang sama. Oleh sebab itu manusia tidak hanya diperlengkapi indra dan rasio saja, tetapi juga intuisi yang menyatukan itu semua.

F.  Akal, Rasio dan Intuisi

Menurut Iqbal fakultas rasio atau persepsi sama dengan fakultas intuisi. Fungsi rasio adalah memecah hakikat menjadi Fragmen-fragmen statis. Dengan demikian unsur-unsur pengalaman disintesiskan melalui kategori-kategori yang sesuai dengan segi-segi pengalaman tersebut. sedangkan fakultas intuisi adalah  menghasilkan sebentuk pengetahuan yang terlepas dari kegiatan meruang. Menurut Iqbal mengutip dari bergson, intuisi pada hakikatnya adalah semacam akal  yang lebih tinggi. Karena itu, intuisi memiliki unsur kognitif sebagaimana halnya rasio.

Intuisi bukanlah sesuatu yang subjective melainkan sama objektivenya seperti pengetahuan yang didapatkan melalui persepsi. Intuisi membawa manusia kepada kontak langsung dengan realitas  yang tidak  terbuka  bagi persepsi indrawi. Apabila rasio menangkap realitas dalam kategori-kategori (substansi, kausalitas, modalitas) maka hati menangkap realitas secara utuh (esensial).

“Iqbal mengemukakan rasio dan intuisi melalui analogi  benih sebagai satu kesatuan organis yang tumbuh hingga menjadi bentuk yang nyata sebagai pohon”.

G. Intuisi Diri dan Pengetahuan Religius

Intuisi Iqbal bertolak dari pengetahuan yang bisa diketahui secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, yakni pengetahuan intuitif tentang adanya diri (self). Intuisi tidak dapat diragukan lagi kebenaranya meskipun bersifat subjective.

Penemuan diri menurut Iqbal adalah puncak pengalaman religius, sebab melalui diri itulah kita mengadaka relasi dengan realitas ultim. Intuisi tentang adanya dirilah yang akan membawa manusia pada intuisi tentang realitas ultim (final).

Adapun untuk mengenali shahih atau tidaknya pengalaman mistik tersebut, menurut Iqbal kita hanya bisa menentukan dari buahnya saja (sisi pragmatisnya) bukan dari akarnya.

H. Filsafat Manusia

Bagi Iqbal Pembagian jiwa dan tubuh telah banyak mengahsilkan kekeliruan. Manusia menurut Iqbal adalah satau kesatuan hidup dan kesadaran. Memang, jika dilihat dari persefektif luar maka manusia dinamakan tubuh dan jika dilihat sebagai tindakan dinamakan diri. Tapi, manusia adalah satu kesatuan atau kombinasi dari daya-daya yang membentuk beragam susunan. Salah satu susunan pasti dari daya-daya ini adalah ego.

Ego adalah kesatuan intuitif atau titik kesadaran pencerah yang menerangi pikiran, perasaaan, dan kehendak manusia. Ego menurut Iqbal adalah suatu sistem tindakan-tindakan yang spontan yang tereflekasikan dalam tubuh. Dengan kata lain tubuh adalah tempat  penumpukan tindakan-tindakan atau ego.

Watak esensial ego adalah sebagaimana halnya ruh dalam konsep islam adalah memimpin karena ia bergerak dari amr (perintah) Ilahi. Artinya realitas eksistensial manusia terletak dalam sikap keterampilan egonya dari yang Ilahi melalui pertimbangan- pertimbangan. Kehendak-kehendak, tujuan-tujuan dan apresiasinya. Oleh sebab itu kian jauh jarak seseorang dengan Tuhan maka kian berkuranglah kekuatan egonya.

Ego adalah sesuatu yang dinamis, ia mengorganisir dirinya berdasarkan waktu dan terbentuk, serta didisiplinkan pengalaman sendiri. Setiap denyut pikiran baik masa lampau atau sekarang adalah satu jalinan tak terpisahkan dari suatu ego yang mengetahui dan memeras ingatan.

I. Kehendak Kreatif

Hidup adalah kehendak kreatif yang oleh Iqbal di sebut Soz. Meskipun demikian, konsep kehendak kreatif yang dimaksud Iqbal berbeda dengan konsep kshendak kreatif Nietzsche dan Bergson. Nietzsche dan Bergson mengartikan kehendak kreatif sebagai khaotis, buta, dan tanpa tujuan. Sedangkan Iqbal menolak pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa kehendak kreatif adalah sesuatu yang bertujuan, yaitu diri selalu bergerak ke satu arah.

Iqbal juga menolak panteisme yang menekankan kepasifan, penolakan ego sebagai keutamaan dan sebagai gantinya ia menekankan bahwa diri otentik adalah diri yang kuat, bersemangat, otonom dimana hal-hal yang menguatkan kekuatan, semangat dan otonom itulah yang mempertinggi kualitas diri.

Berbicara tentang taqdir, manusia bisa menguasai taqdir dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan intelektual, yaitu dengan memahami dunia sebagai sistem tegas  dari sebab akibat dan cara vital, dengan penerimaan mutlak dari kemestian yang tak terhindarkan dari hidup. Iqbal tidak menyangkal adanya sikap fatalisme yang hina dari para sufi dan ia pun mencerca hal tersebut. namun, kebebasan yang tak mengenal rintangan juga dicibirnya. Dalam hal ini kebebasan absolut juga mempunyai konsekuensi moral yang sama dengan fatalisme.

Menurut Iqbal taqdir adalah pencapain batin oleh sesuatu, yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dapat direalisasikan yang terletak pada kedalaman sifatnya

BAB  III

IQBAL DAN ASRAR-I-KHUDI

 

Mungkin dari banyaknya pemikir islam sunni kontemporer hanya Muhammad Iqbal yang mampu mendapatkan sorotan dunia. Pemikiran dan bait-bait puisinya dapat menggetarkan hati, menggelorkan jiwa bagi mereka yang mau membuka mata melihat kemunduran umat islam. Bait puisi iqbal menginspirasi Negara Pakistan untuk memakai asas islam sebagai pedoman negara.

Kebanyakan para aktivis pergerakan islam di Indonesia telah banyak mengenal sosok berkumis lebat ini. Meski sulit untuk memetakan pola pemikiran iqbal atau posisi intelektualnya, tatapi pandangan iqbal masih dapat kita tangkap dari karya-karyanya. Karya yang mungkin bagi saya mewakili pandangan filosofis iqbal adalah Asrar-i- Khudi, kemudian yang mewakili pandangan sufi, perkembangan umat islam maupun tentang wanita iqbal menulis buku rumuz-I-Bekhudi.

Berikut ini saya akan memaparkan isi dari kitab Asr ar – i- Khudi dan pe ndapat iqbal mengenai tema-tema tersebut. Secara kandungan Asrar-i- khudi memyajikan tema tema sebagai berikut:

a)                  kepribadian

b)                  tujuan dan harapan

c)                  cinta dan ‘isyq

d)                 pribadi menjadi lemah dengan meminta

e)                  penafian diri ciptaan bangsa-bangsa yang hendak menjajah

f)                   pikiran plato dan dampaknya terhadap kesusastraan islam

g)                  hakikat sajak dan perbaikan kesusastraan islam

h)                  fase-fase pendidikan diri

i)                    nasehat  mir najat al-naqsyabandi pada kaum muslimin india

j)                    waktu adalah pedang

k)                  do’a

tentunya setiap karya iqbal tidak lepas dari puisi dan karya sastra yang bernilai, sehingga sulit untuk memahami maksud iqbal. Karena puisi memiliki multi tafsir setiap bait, baris bahkan pilihan katanya mengandung banyak makna dan bersayap. Kali ini saya mencoba mengiktisarkan pendapat iqbal dalam kaca mata  Dr. Abdul wahab ‘azzam.

a)      KEPRIBADIAAN

Diwan itu diawali dengan pembahasan tentang kepribadian. Menurut iqbal, kepribadian adalah asal alam semesta. Katanya: “struktur alam semesta adalah bekasnya dan berasal dari rahasia-rahasianya yang tampak. Pada waktu ia membangkitkan dirinya, timbullah alam pikiran. Dalam dirinya tersembunyi ratusan alam. Dan yang lain-lainnay ditetapkan olehnya. Sebab, ia menjadi patokan bagi yang lain-lain.( yakni ia merupakan satu realitas yang menjadi asal berbagai pribadi yang berbeda dan berkompetisi)

Kemudian katanya:

“ratusan taman dikorbankan demi sekuntum mawar, ribuan rintihan dibangkitkan demi sebuah melodi, satu bintang mmberi anugrah ratusan bulan, dan ratusan makalah ditulis demi sebuah kata. Sikap berlebih lebihan dan kekerasan ini timbul karena  untuk menciptakan dan menyempurnakan keindahan ideal. Yakni bahwa penyenpurnaan itu mengharuskan dihancurkannya berbagai bentuk, ditadakannya konsep-konsep, dan dilewatinya berbagai perkembangan. Misalnya saja, seratus taman dibangun untuk menyempuernakan sekuntum mawar didalamnya, dan seterusnya. Katanya lebih lanjut:

“lihatlah. Demi berfungsinya kepribadian itu, baik sebagai factor yang membangkitkan atau dibangkitkan, dan baik sebagai sarana maupun tujuan, ia dibangkitkan, digiatkan, diberi cahaya, ditiadakan, dibakar, dibunuh, dimatikan, dan tumbuh”.

Tampaknya, yang dimaksud oleh sang penyair ialah kekuatan hidup yang tampak dalam berbagai bentuk dan keadaan. Namun, ia merupakan kehidupan yang penting dan kepribadian dalam diri pribadi-pribadi.

 

Katanya:

“kehidupan alam semesta berasal dari kekuatan pribadi. Berdasarkan kekuatan itulah kehidupan dinilai. Titik air, misalnya saja, pada waktu pribadinya menjadi kuat, ia akan berubah menjadi dataran dan akan dikuasai oleh lautan”.

 

b)     TUJUAN DAN HARAPAN

Dalam seluruh sajak iqbal, harapan adalah kehidupan, dan usaha yang terus menerus adalah yang memelihara kehidupan ini. Harapan bagiiqbal, begitu pebtingnya. Dan ia pun tidak henti-hentinya dalam memberi dorongan untuk mencapainya dengan kerja keras dan usaha yang terus menerus. Malah iqbal berpendapan bahwa berjuang ke arah tujuan adalah lebih lezat ketimbamg pencapaian:

“berbahagialah orang yang masih dalam bekas tandu. Betapa lezatnyadalam kegelisahan karena belum sampai”.

 

Dalam bab dari asrar I khudi beliau berkata :

“hidup diabadikan oleh tujuan, oleh tujuan genta kafilah berbunyi, hidup terpendam dalam mencari, asalnya sembunyi dalam gairah, hiduplah gairahmu dalam hatipanas cerah, jadikan abumu kecil membesar  tugu kenangan, gairah ialah roh dunia ini dari ronadan wewangian, fitrah setiap suatu itu taat  pada gairah, ingin menggerakan hati menari  dalam dada, dan oleh nyalanya dada kemilau bagai kaca, diberinya tenaga bagi bumi tinggi menjulang, gairah ialah khidr bagi musa pemunya irfan.hati mengambil hidup nyala gairah, dan bila diambilnya hidup segala yang mati sirna, bila kendor gairahnya maka patahlah sayapnya,lemah terkulai akhirna dan tak bisa terbang tinggi.

Bahkan ia berpendapat bahwa akal budi taumbuh dari harapan:

“gairah yang memecah terus oleh tenaganya sendiri, meloncat keluar dari dalam kalbu lalu mengambil rupa, hidung, tangan, otak, mata, dan telinga, cita, imajinasi, perasaan, kenangan, dan pemahaman, segala ini menjadi senjata penjelmaan pribadi, padanya yang menunggang kuda kehidupan”.

 

c)      CINTA DAN ‘ISYQ

Cinta, yaitu cinta terhadap harapan dan ideal, membangkitkan kepribadian dan menampakan kekuatan-kekuatan yang ada di dalamny. Dan ideal seorang muslim yang sedang mencinta ialah Rasulullah asww.

Kata iqbal dal puisinya

Apabila seseorang bisa mengendalikan cinta , maka antaranya dan harapannya tiada lagi pengahalang dan kesulitan, dan ia pun tidak mempunya rasa takut dan gentar, serta bisa membuat manusia menaklukkan  alam semesta:

 

Oleh cinta pribadi kian abadi

Lebih hidup, lebih menyala, dan lebih kemilau

Dari cinta menjelma pancaran wujudnya

Dan perkembangan  kemungkinan yang tak diketahui semula

Fitrahnya mengumpil api dari cinta

Cinta mngajarinya menerangi alam semesta

Cinta tak takut kepada pedang dan pisau belati

Cinta tidak berasal dari air dan bumi

Cinta menjadikan perang dan damai di dunia

Sumber hidup ialah kilau pedang cinta

 

d)     PRIBADI MENJADI LEMAH DENGAN MEMINTA

Percaya pada diri, persiapan dengannya, ketergantungan padanya, dan kebutuhan padanya, menguatkan pribadi. Sebaliknya, keraguan kepadanya, meminta bantuan kepada orang lain, dan membawanya kepada bukan diri sendiri, melemahkan pribadi.

Kata Iqbal selanjutnya:

Meski kau miskin dan merana. Diliputi bencana

Janganlah terima rotimu sehari dari karunia orang lain

Janganlah cari gelombang air dari sumbermatahari

Agar janganlah kelak kau di malukan di depan nabi

Pada itu hari bila setiap jiwa akan diliputi takut dan cemas

Bulan beroleh makan dari hidangan surya

Dan mempunyainya cap kelimpahan matahari dalam hatinya

Berdoalah kepada allah supaya kau berani!

Berjuanglah dengan nasibmu!

Janganlah nodai kehormatan agama murni

Berbahagialah orang yang merki dahaga oleh sinar terik mentari

Tidak meminta kepada khizr  akan air minuman

 

e)      PENAFIAN DIRI CIPTAAN BANGSA-BANGSA YANG HENDAK MENJAJAH

Dalam bab ini, Iqbal memperbincangakn usaha bangsa-bangsa yang kalah untuk mengalahkan bangsa yang menaklukkan, dengan penafian diri. Dalam bab itu dikisahkannya sekelompak kambing yang dikuasai harimau, di mangsa dan dipermalukan seenak hati harimau.

Maka salah seekor kambing, yang merasa sedih melihat keadaan seekor kambing, mencari tipu muslihat yang bisa melemahkan rasa menguasai dan kekuatan yang dimiliki harimau itu. Ia pun kemudian berpura-pura menjadi nabi yang diutus pada harimau. Ia menyeru harimau untuk hidup sebagai zahid(asketis), bersikap pasrah dan menolak diri. Harimau itu dilarangnya untuk makan daging dan diajarinya bahwa surge itu bagi orang yang lemah dan kekuatan itu merupakn hal yang sangat merugiakan.dan katanya:

O, kau penyembelih kambing

Bunuhlah dirimu sendiri,dan kau akan beroleh mertabat tinggi hidup ini  gelisah oleh kekerasan, penindasan, dendam kesumat dan kuasa

meski diinjak-injak selalu, rumput tumbuh sewaktu-waktu, dan dibersihkannya dari matanya kantuik ajal berkali-kali, lupakan dirimu kalau kau bijaksana, kalau kau tak bisa nafi dalam dirimu, kau gila. Tutuplah cita mu, telinga dan bibirmu. Agar citamu akan sampai ke langit tinggi. Tamsya dunia ini maya, maya semata:, o, sitolot, jaganlah dirimu kau siksa dengan khayalan belaka.

 

 

f)       PIKIRAN PLATO DAN DAMPAKNYA PADA KESUSASTRAAN ISLAM

Iqbal menol;aka lam matari dan alam ideal plato, menurud iqbal pikiran plato dapat mendorong orang untuk meniggalkan alam rasa pada alam khayal dan meninggalkan kehidupan ini. Kata iqbal “ alam materi ini mahluk dan manusia harus menundukanya serta mengantarkanya pada tujuannya. Dan dalam usaha kuntuk menundukan ala mini, timbul kekautan jiwa manusiawi dan perkembangannya.

Iqbal mengkritik plato dengan bait puisinya:

Plato, rahib dan pujangga kuno. Ialah seorang dari kumpulan kambing zaman bahari. Kuda pegasusnya kesasar dalam gulita filsafat dan lari mendaki gunung wujud ini. Ta’jub pesoana dia oleh yang ideal. Sehingga dijadikannya kepala, mata, dan telinga. Tiada masuk hitungan. “matilah”, katanya, rahasia kehidupan: pelita mengelora bila dipadamkan nyalanya.  [7]

 

Iqbal juga berkata :”filosof kita tak kenal obat lain melainkan mengungsi, tak tahan dia pada bahana gempita dunia ini. Diletakkanya hatinya pada nyala api yang hendak suram. Dan dilukisnya dunia dalam candu tengelam.[8]

 

Tentunya sangat panjang untuk membahas seluruh ringkasan asrar-i-khudi dalam makalah yang singkat ini. Yang perlu kita garis bawahi iqbal selain filosof dan pujangga besar tetapi ia tidak pertengelam dalam lautan luas mistisme ataupun kerapuhan peradaban barat.

 

g)  IDE REKONTRUKSI IQBAL.

Ketika mendengar nama pria ganteng berkumis dari seilkot ini, kita akan terbayang dengan gagasan besar iqbal yaitu rekontuksi. Rekontruksi apa yang di inginkan iqbal, ini tidak terlepas dari keadaan muslim di india yang dalam keadaan terpuruk oleh penindasaan penjajah bahkan lebih berat lagi penjajahan secara tauhid dan pandangan dunia muslim india.

Menurud Iqbal rekontruksi pemikiran keagamaan akan sis-sia saja apabila tidak diikuti dengan kebangkitan spiritualisme islam. Inti dari filsafat Iqbal ialah “penyadaran diri”. Iqbal berpendapat bahwa islam yang dari timur telah kehilangan identitas yang sesungguhnya, yaitu ruh islam, dan ini harus dipulihkan kembali. Ia menyatakan bahwa sesorang menyadari kepribadianya telah hancur lebur atau hilang. Ia telah pindah jauh dari drinya sendirida telah menjadi seorang asingbagi dirinya sendiri. Ia menyerahkan tempatnya kepada sesuatui yang bukan dirinya sendiri. Dan dalam perkataan maulana rumi yang sangat memikat iqbal dan yang sangat mempengaruhi ideologinya ialah” ia membangun di atas lempung orang lain dan sebagai ganti mengurus pekerjaanya sendiri, ia melakukan pekerjaan orang lain.[9]


[1] Adian, Donny gahral. Muhammad Iqbal. Hlm.23

[2] Azzam, Abdul Wahhab. Filsafat dan puisi Iqbal. Hlm. 39

[3] Adian, Donny Gahral. Muhammad Iqbal. Hlm 33

[4] Adian, Donny Gahral. Muhammad Iqbal. Hlm 33

[5] Adian, Donny Gahral. Muhammad Iqbal. Hlm 42

[6] Adian, Donny Gahral. Muhammad Iqbal. Hlm 23

[7] ‘Azzam, abdul wahhab, filsafat dan puisi Iqba, Bandung: penerbit pusaka, 2001

[8] Iqbal, Muhammad, pesan dari timur, bandung : penerbit pusaka, 1985

[9] Khamanei, ali, syariati , ali, muthahari, murthadho, Muhammad iqbal dalam pandangan para pemikir syiah, Jakarta : al-huda, 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s